<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ekonomi Kreatif Archives - Info Mojokerto</title>
	<atom:link href="https://infomojokerto.id/tag/ekonomi-kreatif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://infomojokerto.id/tag/ekonomi-kreatif/</link>
	<description>Infomojokerto.id hadir untuk menjembatani warga Mojokerto dengan informasi terkini dari kota mereka sendiri. Mulai dari berita harian, liputan UMKM lokal, sampai agenda kegiatan masyarakat&#8212;semua terangkum di satu tempat. Karena Mojokerto butuh suara, dan kami siap menyuarakannya.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 May 2026 02:12:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://infomojokerto.id/wp-content/uploads/2025/04/4-150x150.png</url>
	<title>Ekonomi Kreatif Archives - Info Mojokerto</title>
	<link>https://infomojokerto.id/tag/ekonomi-kreatif/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Subuh Sunyi di Jalan Bagusan: Harmoni Akad Murabahah Tanpa Riba pada Kuliner Mojokerto</title>
		<link>https://infomojokerto.id/subuh-sunyi-di-jalan-bagusan-harmoni-akad-murabahah-tanpa-riba-pada-kuliner-mojokerto/</link>
					<comments>https://infomojokerto.id/subuh-sunyi-di-jalan-bagusan-harmoni-akad-murabahah-tanpa-riba-pada-kuliner-mojokerto/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[latif syaipudin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 02:12:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[mojokerto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://infomojokerto.id/?p=3906</guid>

					<description><![CDATA[<p>Infomojokerto.id &#8211; Di balik gang sempit di Jalan Bagusan RT05/RW04, <a class="read-more" href="https://infomojokerto.id/subuh-sunyi-di-jalan-bagusan-harmoni-akad-murabahah-tanpa-riba-pada-kuliner-mojokerto/" title="Subuh Sunyi di Jalan Bagusan: Harmoni Akad Murabahah Tanpa Riba pada Kuliner Mojokerto" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://infomojokerto.id/subuh-sunyi-di-jalan-bagusan-harmoni-akad-murabahah-tanpa-riba-pada-kuliner-mojokerto/">Subuh Sunyi di Jalan Bagusan: Harmoni Akad Murabahah Tanpa Riba pada Kuliner Mojokerto</a> appeared first on <a href="https://infomojokerto.id">Info Mojokerto</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-pm-slice="1 1 []"><strong>Infomojokerto.id</strong> &#8211; Di balik gang sempit di Jalan Bagusan RT05/RW04, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, kepulan asap tipis dari dapur tradisional selalu menjadi penanda dimulainya geliat ekonomi mikro. Warung Nasi Bu Lina, sebuah usaha kuliner sederhana yang berdiri sejak tahun 2016, konsisten bertahan menjaga eksistensinya.</p>
<p data-pm-slice="1 1 []">Meskipun lokasinya tersembunyi jauh dari riuh jalan utama, tempat ini tidak pernah kehilangan magnetnya bagi para pekerja pabrik dan pelajar yang mencari kehangatan sarapan sebelum beraktivitas.</p>
<p>Keunikan cara berdagang di warung ini menarik perhatian Rendy Hadi Syahputra (2026), seorang mahasiswa Program Studi Akuntansi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Al-Anwar Mojokerto.</p>
<p>Melalui sebuah pengamatan mendalam, Rendy menemukan bahwa warung kelontong makanan ini bukan sekadar tempat mengganjal perut, melainkan sebuah laboratorium hidup. Geliat bisnis Bu Lina menyajikan potret menarik tentang bagaimana nilai-nilai luhur ekonomi Islam dipraktikkan secara alami di tingkat tapak.</p>
<p>Setiap harinya, Bu Lina memulai rutinitasnya sejak pukul 05.30 pagi, menyediakan menu sarapan yang bervariasi mulai dari nasi pecel yang segar, nasi jagung gurih, sayur lodeh yang hangat, hingga rawon yang kaya rempah.</p>
<p>Responsivitas Bu Lina dalam melayani pesanan khusus seperti nasi kotak dan tumpeng untuk berbagai acara warga juga menjadi bukti kejelian membaca peluang. Diversifikasi layanan ini tidak hanya mempererat hubungan sosial dengan warga, tetapi juga menjadi instrumen efektif dalam mendongkrak omzet harian.</p>
<p>Siasat bisnis yang ramah di kantong tercermin dari penetapan harga makanan yang berkisar antara Rp7.000 hingga Rp10.000 per porsi. Dengan harga tersebut, Bu Lina berhasil menyeimbangkan antara daya beli masyarakat desa yang terbatas dengan perolehan keuntungan yang layak.</p>
<p>Penentuan margin keuntungan yang wajar ini, menurut analisis Rendy (2026), secara tidak sadar telah merefleksikan salah satu konsep paling fundamental dalam perdagangan Islam, yaitu prinsip keterbukaan harga jual.</p>
<p>Secara teoretis, konsep penentuan harga yang diterapkan oleh Bu Lina sangat erat kaitannya dengan akad <em>murabahah</em> dalam perbankan dan keuangan Islam. Merujuk pada pandangan Muhammad (2005) dalam buku <em>Manajemen Bank Syariah</em>, akad murabahah didefinisikan sebagai perjanjian jual beli di mana penjual secara jujur menyebutkan harga pokok barang kepada pembeli dan menambahkan margin keuntungan yang disepakati bersama.</p>
<p>Di warung ini, kesepakatan tersebut terjadi secara implisit melalui kepuasan pelanggan atas harga yang transparan.</p>
<p>Kepatuhan terhadap nilai-nilai transparansi ini juga selaras dengan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia. Dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2017), ditegaskan bahwa transaksi murabahah harus didasari atas kejujuran, keterbukaan, serta bebas dari unsur penipuan.</p>
<p>Bu Lina memenuhi standar etis ini dengan menyajikan makanan berkualitas sesuai dengan harga yang ia tawarkan, tanpa ada biaya tersembunyi yang merugikan konsumennya.</p>
<p>Tidak hanya soal harga, ketegasan Bu Lina dalam bertransaksi juga menjadi poin penting yang diamati oleh Rendy. Warung ini menerapkan prinsip mutlak yang melarang pembelian secara utang, di mana seluruh transaksi wajib diselesaikan secara tunai seketika.</p>
<p>Kebijakan ini merupakan langkah praktis untuk menghindari unsur <em>gharar</em> (ketidakpastian) dalam arus kas usaha, karena dalam ekonomi syariah, ketidakjelasan waktu pelunasan utang dapat memicu perselisihan di kemudian hari.</p>
<p>Sisi kesucian permodalan juga menjadi mahkota bagi ketahanan bisnis Warung Nasi Bu Lina yang bebas dari jeratan bunga. Sejak pertama kali berdiri sepuluh tahun silam, seluruh modal kerja yang digunakan murni berasal dari tabungan pribadi pemilik tanpa melibatkan pinjaman eksternal.</p>
<p>Keputusan ini secara otomatis menjauhkan warung kecil di Gedeg ini dari praktik keuangan non-halal yang sangat dihindari dalam sistem perekonomian Islam.</p>
<p>Hal ini sangat sejalan dengan penegasan dari pakar keuangan syariah, Muhammad Syafi’i Antonio (2001) dalam bukunya <em>Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik</em>. Antonio menekankan bahwa menghindari riba dalam segala bentuk transaksi keuangan adalah pilar utama untuk menjaga keberkahan dan kebersihan harta dalam berusaha.</p>
<p>Dengan modal yang bersih dari bunga, Bu Lina dapat menjalankan usahanya dengan tenang tanpa bayang-bayang kejaran tagihan yang mencekik.</p>
<p>Namun, di balik keindahan praktik syariahnya, Rendy (2026) mencatat adanya keterbatasan administratif yang masih dialami oleh Bu Lina. Sistem pencatatan keuangan yang berjalan saat ini masih sangat tradisional, di mana pemilik hanya menuliskan pengeluaran harian untuk pembelian bahan baku seperti beras dan sayur di buku saku.</p>
<p>Ketiadaan catatan pendapatan harian dan laporan laba rugi yang sistematis membuat evaluasi kesehatan bisnis jangka panjang menjadi sulit terukur secara presisi.</p>
<p>Menanggapi keterbatasan tersebut, konsep akuntansi syariah sebenarnya memandang pencatatan sebagai bagian dari amanah kepemimpinan. Tokoh akuntansi Islam, Iwan Triyuwono (2012) dalam buku <em>Akuntansi Syariah: Perspektif, Metodologi, dan Teori</em>, menjelaskan bahwa akuntansi tidak boleh hanya dilihat sebagai alat pencari keuntungan materiil.</p>
<p>Akuntansi syariah adalah bentuk pertanggungjawaban moral dan spiritual kepada Allah SWT atas pengelolaan sumber daya yang diamanahkan-Nya.</p>
<p>Sebagai langkah perbaikan, Rendy memberikan rekomendasi praktis bagi Bu Lina untuk mulai menerapkan pencatatan kas masuk dan kas keluar sederhana secara konsisten. Pemisahan antara dompet belanja rumah tangga dan laci kas warung adalah langkah awal yang krusial untuk menjaga integritas modal usaha.</p>
<p>Dengan pencatatan yang tertata, Bu Lina tidak hanya dapat memantau keuntungan riil dari rawon atau pecelnya, tetapi juga memiliki data yang valid saat ingin mengembangkan skala usahanya.</p>
<p>Kisah dari gang kecil di Jalan Bagusan ini memberikan pelajaran berharga bahwa syariah bukan sekadar teori di ruang kuliah STIE Al-Anwar. Melalui keuletan Bu Lina, kita melihat bahwa kejujuran, penghindaran riba, dan kejelasan akad adalah resep nyata yang menjaga warung tradisional tetap kokoh melintasi zaman.</p>
<p>Dengan sedikit sentuhan kerapian administratif, bisnis kuliner lokal ini akan tumbuh menjadi entitas ekonomi yang tidak hanya mendatangkan profit, tetapi juga menebar keberkahan bagi semesta sekitar.</p>
<p>The post <a href="https://infomojokerto.id/subuh-sunyi-di-jalan-bagusan-harmoni-akad-murabahah-tanpa-riba-pada-kuliner-mojokerto/">Subuh Sunyi di Jalan Bagusan: Harmoni Akad Murabahah Tanpa Riba pada Kuliner Mojokerto</a> appeared first on <a href="https://infomojokerto.id">Info Mojokerto</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://infomojokerto.id/subuh-sunyi-di-jalan-bagusan-harmoni-akad-murabahah-tanpa-riba-pada-kuliner-mojokerto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Es Teh dan Ekonomi Kerakyatan: Analisis Mahasiswa STIE Al-Anwar terhadap Eksistensi Teh Desa di Jombang</title>
		<link>https://infomojokerto.id/es-teh-dan-ekonomi-kerakyatan-analisis-mahasiswa-stie-al-anwar-terhadap-eksistensi-teh-desa-di-jombang/</link>
					<comments>https://infomojokerto.id/es-teh-dan-ekonomi-kerakyatan-analisis-mahasiswa-stie-al-anwar-terhadap-eksistensi-teh-desa-di-jombang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[latif syaipudin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 21:01:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Kreatif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://infomojokerto.id/?p=3780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Infomojokerto.id &#8211; Dunia ekonomi kreatif di Kabupaten Jombang terus menunjukkan <a class="read-more" href="https://infomojokerto.id/es-teh-dan-ekonomi-kerakyatan-analisis-mahasiswa-stie-al-anwar-terhadap-eksistensi-teh-desa-di-jombang/" title="Es Teh dan Ekonomi Kerakyatan: Analisis Mahasiswa STIE Al-Anwar terhadap Eksistensi Teh Desa di Jombang" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://infomojokerto.id/es-teh-dan-ekonomi-kerakyatan-analisis-mahasiswa-stie-al-anwar-terhadap-eksistensi-teh-desa-di-jombang/">Es Teh dan Ekonomi Kerakyatan: Analisis Mahasiswa STIE Al-Anwar terhadap Eksistensi Teh Desa di Jombang</a> appeared first on <a href="https://infomojokerto.id">Info Mojokerto</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-pm-slice="1 1 []"><strong>Infomojokerto.id</strong> &#8211; Dunia ekonomi kreatif di Kabupaten Jombang terus menunjukkan geliat yang signifikan, terutama pada sektor kuliner minuman kekinian. Di tengah persaingan merk-merk besar, sebuah unit usaha mikro bernama &#8220;Teh Desa&#8221; yang berlokasi di Mojolegi, Kecamatan Mojoagung, berhasil mencatatkan performa yang impresif sejak resmi beroperasi pada Agustus 2024 lalu.</p>
<p>Keberhasilan usaha ini tidak terlepas dari tangan dingin Niki Dwi Pangestu, atau yang akrab disapa Mbak Niki. Di usianya yang menginjak 29 tahun, ia berani mengambil langkah strategis dengan menanamkan modal awal berkisar antara Rp 30.000.000 hingga Rp 33.000.000 untuk menghadirkan gerai <em>franchise</em> yang kini menjadi primadona di kawasan tersebut.</p>
<p>Secara geografis, pemilihan lokasi Teh Desa terbilang sangat cerdas dan strategis, yakni tepat di depan ruko karpet, Jalan Raya Ahmad Yani No. 34, Sawah, Mojolegi. Posisi ini berada di jalur utama yang padat, menjadikannya magnet bagi siapa saja yang melintasi kawasan Mojoagung untuk sekadar melepas dahaga di tengah cuaca panas.</p>
<p>Awal berdirinya usaha ini dimulai dengan perekrutan satu orang karyawan. Namun, hukum ekonomi tentang permintaan (<em>demand</em>) membuktikan kekuatannya; hanya dalam hitungan hari, volume pesanan melonjak drastis melampaui ekspektasi awal. Hal ini memaksa pemilik untuk segera menambah tenaga kerja guna menjaga kualitas layanan dan kecepatan operasional.</p>
<p>Saat ini, gerai Teh Desa didukung oleh dua karyawan cekatan yang melayani pelanggan mulai pukul 09.30 WIB hingga 21.30 WIB. Keberadaan tenaga kerja yang terampil ini memungkinkan Mbak Niki untuk menjalankan fungsi manajemen dari balik layar, memantau operasional tanpa harus terlibat langsung dalam pelayanan teknis setiap harinya.</p>
<p>Keunggulan kompetitif dari Teh Desa terletak pada strategi harga yang sangat inklusif. Dengan hanya Rp 3.000, konsumen sudah dapat menikmati satu cup teh rasa original yang menyegarkan. Bagi pecinta variasi rasa seperti leci, lemon, jasmine, hingga mangga, mereka cukup merogoh kocek tambahan sebesar Rp 2.000, sebuah angka yang sangat ramah di kantong.</p>
<p>Harga yang terjangkau ini menciptakan spektrum pelanggan yang sangat luas, mulai dari anak-anak sekolah yang baru pulang belajar, warga sekitar, hingga buruh pabrik triplek di kawasan sekitar. Hal ini sejalan dengan teori <em>Price Sensitivity</em>, di mana harga yang rendah mampu menjangkau pangsa pasar yang lebih besar dalam industri minuman cepat saji.</p>
<p>Dalam tinjauan ekonomi, fluktuasi penjualan Teh Desa sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Pada musim kemarau, gerai ini mampu menjual antara 250 hingga 300 cup per hari dengan omset rata-rata mencapai Rp 900.000. Namun, tantangan muncul saat musim hujan tiba, di mana volume penjualan terkoreksi menjadi sekitar 190-230 cup dengan omset Rp 650.000.</p>
<p>Fenomena menarik terjadi saat adanya momentum sosial seperti karnaval, gerak jalan, hingga gelaran <em>sound horeg</em>. Pada saat-saat tersebut, omset harian bisa melesat melampaui angka Rp 1.100.000. Hal ini membuktikan bahwa UMKM seperti Teh Desa sangat bergantung pada kepadatan kerumunan massa sebagai katalis peningkatan pendapatan instan.</p>
<p>Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan oleh Sherly Nur Agus Tasya, mahasiswa Prodi Manajemen semester 4 STIE Al-Anwar Mojokerto, terungkap struktur biaya operasional harian yang cukup efisien. Untuk target penjualan 250 cup original, biaya bahan baku yang meliputi sedotan, plastik, cup, teh, gula, es batu, hingga air galon mencapai Rp 482.000.</p>
<p>Dengan total penjualan 250 cup yang menghasilkan omset Rp 750.000 dan total biaya bahan baku sekitar Rp 480.000, Teh Desa mampu mengantongi laba kotor harian sebesar Rp 270.000. Angka ini mencerminkan margin keuntungan yang sehat bagi sebuah unit usaha <em>franchise</em> di tingkat kecamatan, sekaligus menunjukkan potensi pengembalian modal yang stabil.</p>
<p>Analisis ini didukung oleh pandangan para ahli ekonomi yang menyatakan bahwa sektor UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional karena sifatnya yang adaptif. Keberhasilan Teh Desa dalam mengelola biaya variabel dan mempertahankan volume penjualan adalah kunci utama untuk bertahan dalam pasar minuman yang kompetitif dan terus berubah.</p>
<p>Melalui laporan penelitian ini, kita dapat belajar bahwa keberanian memulai dan ketepatan dalam membaca pasar adalah modal utama dalam ekonomi kreatif. Studi kasus Teh Desa di Mojolegi ini memberikan optimisme bagi mahasiswa dan pelaku usaha muda lainnya bahwa sektor mikro tetap menjanjikan keuntungan nyata selama dikelola dengan manajemen yang baik.</p>
<p>The post <a href="https://infomojokerto.id/es-teh-dan-ekonomi-kerakyatan-analisis-mahasiswa-stie-al-anwar-terhadap-eksistensi-teh-desa-di-jombang/">Es Teh dan Ekonomi Kerakyatan: Analisis Mahasiswa STIE Al-Anwar terhadap Eksistensi Teh Desa di Jombang</a> appeared first on <a href="https://infomojokerto.id">Info Mojokerto</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://infomojokerto.id/es-teh-dan-ekonomi-kerakyatan-analisis-mahasiswa-stie-al-anwar-terhadap-eksistensi-teh-desa-di-jombang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
