Dapur Sejarah di Balik Manisnya Onde-Onde Identik dengan Mojokerto dan Majapahit

Infomojokerto.id – Kota Mojokerto, sebuah wilayah yang secara geografis tergolong kecil namun memiliki kepadatan penduduk yang tinggi di Provinsi Jawa Timur, menyimpan sebuah identitas unik yang mendunia.

Melalui penelitian bertajuk “Persepsi Masyarakat Kota Mojokerto Terhadap City Brand Kota Mojokerto Sebagai ‘Kota Onde-Onde’” yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya (2015), Candra Rahsurya Eka Putra mengupas bagaimana identitas ini terbentuk dan diterima oleh warganya.

Penyebutan Mojokerto sebagai ‘Kota Onde-Onde’ bukanlah sebuah kebetulan atau strategi pemasaran modern semata. Branding ini memiliki akar historis yang sangat kuat, menarik garis waktu kembali ke masa kejayaan Kerajaan Majapahit, di mana kudapan ini pertama kali dibawa oleh para pedagang Tiongkok ke tanah air.

Seiring berjalannya waktu, onde-onde tidak hanya menjadi camilan, tetapi menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat Mojokerto. City branding yang diusung oleh pemerintah kota ini mencoba menyelaraskan nilai sejarah tersebut dengan persepsi kolektif masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Pentingnya penyelarasan persepsi ini menjadi fokus utama dalam studi Candra. Sebab, tanpa kesamaan pandangan antara pemerintah dan warganya, sebuah identitas kota berisiko menjadi sekadar slogan kosong yang tidak memiliki jiwa atau keterikatan emosional.

Melalui pendekatan kualitatif dan wawancara semiterstruktur, penelitian ini berusaha menggali lebih dalam tentang apa yang dirasakan warga saat kota mereka dijuluki sebagai pusat onde-onde. Hasilnya menunjukkan sebuah harmoni yang menarik antara kebijakan pemerintah dan kebanggaan lokal.

Masyarakat Kota Mojokerto ternyata tidak hanya menerima label tersebut, tetapi juga aktif menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Identitas sebagai ‘Kota Onde-Onde’ telah menjadi bagian dari jati diri mereka sebagai warga yang bangga akan warisan kulinernya.

Salah satu temuan menarik adalah bagaimana brand ini mempermudah mobilitas ekonomi lokal. Warga merasa dengan adanya branding yang jelas, pusat-pusat produksi onde-onde menjadi lebih mudah ditemukan, baik oleh penduduk lokal maupun pendatang.

Efek domino dari branding ini juga terasa pada popularitas kota. Masyarakat meyakini bahwa identitas kuliner ini mampu membuat Mojokerto dikenal secara luas, melebihi batas-batas administratifnya di Jawa Timur.

Lebih lanjut, masyarakat beranggapan bahwa ‘Kota Onde-Onde’ telah mewakili kebiasaan hidup mereka. Onde-onde bukan lagi sekadar barang dagangan, melainkan simbol keramah-tamahan dan kebiasaan turun-temurun yang dijalankan oleh warga maupun pemerintah kota.

Dalam pandangan warga, wisatawan yang datang berkunjung ke Mojokerto memiliki motif yang hampir seragam. Ada sebuah persepsi kuat bahwa siapa pun yang menginjakkan kaki di kota ini, tujuan utamanya adalah untuk mencicipi dan membawa pulang onde-onde sebagai buah tangan.

Hal ini menunjukkan bahwa onde-onde telah bertransformasi menjadi magnet wisata utama. Meskipun Mojokerto memiliki potensi lain, namun kekuatan visual dan rasa dari onde-onde tetap menjadi wajah depan yang paling diingat oleh khalayak luas.

Candra Rahsurya Eka Putra menggunakan konsep enam tingkat pengertian brand dari Rangkuti (2004) untuk membedah fenomena ini. Analisis tersebut membuktikan bahwa branding Mojokerto telah mencapai level di mana masyarakat merasa memiliki dan menginternalisasi nilai-nilai brand tersebut.

Dokumentasi berupa foto-foto pusat produksi yang diambil selama penelitian memperkuat bukti bahwa industri ini hidup dan bernapas di setiap sudut kota. Keselarasan antara sejarah, produksi, dan persepsi warga menciptakan fondasi city branding yang sangat kokoh.

Keabsahan data dalam penelitian ini pun diuji melalui teknik triangulasi data, memastikan bahwa kesimpulan yang diambil benar-benar mencerminkan realitas sosial di lapangan. Hal ini memberikan bobot ilmiah bagi pemerintah untuk terus mengembangkan potensi wisata berbasis kuliner ini.

Sebagai penutup, Mojokerto membuktikan bahwa kota kecil dengan penduduk padat bisa memiliki gaung yang besar melalui konsistensi identitas. Melalui onde-onde, Mojokerto tidak hanya menawarkan rasa yang manis, tetapi juga narasi sejarah yang terus hidup dalam persepsi positif masyarakatnya hingga saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *