Akuntansi pada Usaha Mikro: Upaya Toko Kelontong Ibu Sholikah Mojokerto Bertahan di Era Digital

Infomojokerto – Di tengah derasnya persaingan antara ritel modern dan platform belanja online, usaha kelontong tradisional tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu contoh nyata ketangguhan pelaku UMKM lokal adalah Toko Kelontong Ibu Sholikah, yang berlokasi di Dusun Tegalsari, Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Dengan strategi pengelolaan usaha yang adaptif dan inovatif, toko ini mampu bertahan bahkan berkembang pesat dalam lima tahun terakhir.

Ibu Sholikah memulai usahanya pada tahun 2000 dengan modal awal Rp200.000 dari hasil tabungan pribadi. Tanpa tergoda mengambil pinjaman besar, ia memilih untuk mengembangkan usaha secara bertahap.

“Saya sisihkan sebagian keuntungan setiap hari untuk menambah modal, jadi toko bisa berkembang sedikit demi sedikit tanpa utang,” ujar Ibu Sholikah.

Cara sederhana ini terbukti efektif, stok barang semakin beragam, dan rak dagangan pun bertambah. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip manajemen keuangan mikro yang menekankan pentingnya penguatan modal sendiri demi menjaga kestabilan arus kas (Kasmir, 2018).

Salah satu faktor keberhasilan Toko Kelontong Ibu Sholikah adalah kemampuan membaca kebutuhan masyarakat sekitar. Toko tidak hanya menjual sembako dan bahan pokok, tetapi juga menyediakan berbagai produk harian seperti alat kebersihan, jajanan anak-anak, hingga pulsa elektrik.

“Saya lihat barang apa yang paling sering dicari, lalu stoknya saya tambah. Jadi pelanggan tidak perlu jauh-jauh belanja,” tambahnya.

Pendekatan berbasis kebutuhan lokal atau demand driven ini membuat toko selalu relevan dengan pola belanja masyarakat.

Dalam upaya mengikuti perkembangan zaman, Ibu Sholikah mulai memanfaatkan WhatsApp sebagai media promosi dan pemesanan barang. Pelanggan di sekitar desa dapat mengirim pesan untuk memesan kebutuhan mereka, dan pesanan akan diantar oleh anggota keluarga.

Digitalisasi sederhana ini membuat Toko Ibu Sholikah lebih kompetitif dan efisien dibandingkan toko tradisional lain di wilayahnya.

Selain beradaptasi secara digital, Ibu Sholikah juga disiplin dalam hal pencatatan keuangan. Ia mencatat transaksi harian dalam buku sederhana dan melakukan rekap mingguan.

“Saya bedakan uang pribadi dengan uang toko, biar tahu berapa untungnya. Kalau dicampur nanti bingung,” ungkapnya.

Menurut Anita Wijaya (2023), pencatatan keuangan yang sederhana namun konsisten sangat membantu pelaku UMKM dalam mengontrol arus kas dan memperkirakan kebutuhan modal.

Melihat peningkatan penjualan yang terus stabil, Ibu Sholikah berencana menambah etalase dan memperluas ruang penyimpanan barang. Ia juga berencana bekerja sama dengan pemasok grosir di Kota Mojokerto untuk mendapatkan harga beli yang lebih bersaing.

Tak hanya itu, toko ini tengah mempersiapkan layanan pembayaran digital seperti transfer bank, Dana, dan GoPay untuk menarik minat konsumen muda yang lebih akrab dengan transaksi non-tunai.

Menurut Heni Nur Rofiqoh, mahasiswa semester 3 Program Studi Akuntansi STIE Al-Anwar Mojokerto yang meneliti usaha ini, kisah Ibu Sholikah menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat menjadi kunci keberlanjutan UMKM.

“Ibu Sholikah menunjukkan bahwa inovasi tidak harus mahal. Dengan pencatatan rapi, adaptasi teknologi ringan, dan pengelolaan mandiri, usaha kecil pun bisa tumbuh di tengah era digital,” ujarnya.

Kisah Toko Kelontong Ibu Sholikah mencerminkan semangat kemandirian dan kecerdasan finansial pelaku usaha kecil dalam menghadapi tantangan zaman.

Melalui strategi keuangan mandiri, digitalisasi ringan, dan kedekatan dengan pelanggan, usaha tradisional dapat bertransformasi menjadi ritel lokal yang kuat dan berkelanjutan. Dengan dukungan pendampingan serta pelatihan manajemen yang tepat, toko-toko seperti milik Ibu Sholikah berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi daerah Mojokerto di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *