Mengenal Desa Wiyu Berpotensi Jadi Pendukung Wisata Terpadu Mojokerto

Infomojokerto.id – Pesatnya perkembangan sektor pariwisata di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, mulai memicu sejumlah persoalan serius. Tingginya lonjakan kunjungan wisatawan pada akhir pekan dan musim liburan kini kerap memicu fenomena overcrowding (kepadatan berlebih), kemacetan lalu lintas, penumpukan volume sampah, hingga degradasi lingkungan di sekitar lereng Gunung Welirang, Arjuno, dan Anjasmoro.

Merespons kondisi tersebut, kehadiran destinasi wisata pendukung (supporting destination) dinilai mendesak untuk mendistribusikan arus wisatawan secara lebih merata dan berkelanjutan. Salah satu wilayah yang dibidik memiliki potensi strategis adalah Desa Wiyu, yang terletak hanya sekitar 3 kilometer di sebelah barat pusat Kecamatan Pacet.

Karakteristik dan Ragam Potensi Desa Wiyu

Secara geografis, Desa Wiyu berada di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga mewarisi udara sejuk khas pegunungan. Desa ini dinilai ideal untuk dikembangkan menjadi kawasan desa wisata terpadu karena memiliki kombinasi daya tarik yang lengkap:

  • Wisata Alam & Olahraga: Bentang alam terasering persawahan dan aliran Sungai Pikatan Satu.

  • Akomodasi & Fasilitas: Mulai menjamurnya pembangunan vila, restoran, serta kafe modern di sepanjang kawasan desa.

  • Seni & Kuliner: Kekayaan seni budaya lokal serta ragam kuliner khas pedesaan yang belum tergarap optimal.

Sungai Pikatan Jadi Sentra Wisata River Tubing

Spesifikasi Sungai Pikatan Satu: Memiliki panjang ±2.500 meter dengan lebar kisaran 3–6 meter. Karakteristik dasarnya berbatu, berair jernih, dengan arus stabil dan kedalaman dangkal.

Melihat karakteristik tersebut, Sungai Pikatan Satu memiliki keunggulan kompetitif untuk dikembangkan sebagai wahana wisata petualangan (adventure tourism), khususnya olahraga air river tubing (menyusuri sungai dengan ban pelampung).

Pengembangan wisata berbasis sungai ini diproyeksikan mampu menjadi stimulus pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. Di samping tubing, area bantaran sungai juga potensial diintegrasikan menjadi spot fotografi alam, pusat edukasi lingkungan, serta atraksi wisata budaya penunjang.

Kendala SDM dan Ancaman Degradasi Lingkungan

Kendati menyimpan potensi ekonomi yang besar, hasil identifikasi lapangan menunjukkan bahwa akselerasi Desa Wiyu menjadi desa wisata terpadu masih membentur sejumlah kendala klasik di sektor Sumber Daya Manusia (SDM) dan lingkungan:

1. Keterbatasan Kompetensi Manajemen

Generasi muda dan masyarakat setempat tercatat masih minim pemahaman mengenai tata kelola destinasi (destination management), operasional wisata olahraga air, standar keselamatan (safety rescue), hingga strategi pemasaran digital (digital marketing).

2. Aktivitas Eksploitasi Alami

Hingga saat ini, sebagian warga lokal masih menggantungkan mata pencaharian dengan melakukan penambangan atau pengambilan batu di sepanjang aliran Sungai Pikatan untuk dijual. Jika terus dibiarkan tanpa adanya alternatif ekonomi baru, aktivitas destruktif ini dipastikan memicu erosi, kerusakan ekosistem sungai, serta meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Keberlanjutan proyeksi Desa Wisata Wiyu ini ke depan akan sangat bergantung pada respons cepat pemangku kebijakan dalam melakukan penguatan kelembagaan lokal serta peningkatan kapasitas (capacity building) bagi kelompok pengelola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *