Infomojokerto.id – Langkah kaki di sepanjang kawasan Sooko dan Gatoel, Kota Mojokerto, sering kali diiringi oleh aroma gurih adonan gorengan yang menggoda selera. Di antara deretan penjual makanan ringan yang memadati sudut jalan, “Tahu Kriting Rembo” hadir sebagai magnet penikmat kuliner murah meriah yang menyajikan aneka kudapan renyah.
Di balik kesederhanaan gerobak usahanya, tersimpan dinamika pengelolaan keuangan yang menarik untuk dicermati sebagai cermin perjuangan sektor informal.
Dinamika pertahanan usaha mikro ini menarik perhatian Inwanul Falakh, mahasiswa Program Studi Manajemen Semester 4 STIE Al-Anwar Mojokerto, untuk melakukan analisis mendalam pada tahun 2026. Melalui kajian lapangan ini, Inwanul melihat bahwa ketangguhan Tahu Kriting Rembo bukan hanya terletak pada cita rasa produknya yang khas.
Keberhasilan mereka bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan kuliner lokal sangat dipengaruhi oleh bagaimana pemiliknya mengelola keterbatasan dana secara mandiri.
Secara makro, eksistensi usaha mikro seperti ini memegang peranan krusial dalam menopang stabilitas ekonomi masyarakat bawah melalui penciptaan lapangan kerja instan.
Akademisi keuangan Kasmir (2016) menegaskan bahwa sektor usaha kecil memiliki tingkat fleksibilitas yang sangat tinggi dalam beradaptasi dengan perubahan pasar yang dinamis. Karakteristik inilah yang membuat Tahu Kriting Rembo tetap tegak berdiri melayani pelanggan setianya, meski diterpa fluktuasi harga bahan pokok.
Untuk memikat pembeli, usaha ini menawarkan variasi menu yang cukup beragam seperti tahu krispi, sosis, otak-otak, scallop, hingga pentol krispi yang digoreng dadakan. Siasat harga yang dipatok pun sangat bersahabat bagi kantong pelajar dan pekerja, yakni mulai dari Rp5.000 per porsi.
Strategi penetapan harga ekonomis ini terbukti efektif dalam menjaga volume penjualan harian agar tetap berada pada level yang aman.
Aspek yang paling menarik dari Tahu Kriting Rembo adalah komitmennya untuk berjalan tanpa bayang-bayang utang lembaga keuangan formal maupun informal. Pemilik memulai langkah bisnisnya murni menggunakan modal sendiri yang dikumpulkan dari tabungan pribadi sebesar Rp3.500.000.
Keputusan ini mencerminkan keberanian sekaligus kehati-hatian dalam melangkah di dunia usaha yang penuh dengan ketidakpastian.
Pilihan untuk menggunakan modal internal ini sangat selaras dengan teori struktur modal dari Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2018). Mereka menjelaskan bahwa pendanaan menggunakan modal sendiri secara signifikan dapat mereduksi risiko finansial karena membebaskan usaha dari kewajiban bunga dan cicilan rutin.
Namun, di sisi lain, keterbatasan dana pribadi ini juga menjadi pembatas yang nyata apabila pemilik berambisi melakukan ekspansi cabang secara masif.
Dalam aktivitas operasional harian, Tahu Kriting Rembo telah mencoba bersentuhan dengan arus modernisasi sistem transaksi. Meskipun pencatatan biaya belanja harian masih dilakukan secara manual pada buku saku, pemilik telah memanfaatkan teknologi aplikasi kasir online berbasis ponsel pintar.
Kolaborasi metode konvensional dan digital ini membantu mempermudah pemantauan transaksi serta meminimalisir potensi kehilangan kas akibat kelalaian manusia.
Langkah digitalisasi ini terbukti mampu memberikan data penjualan harian yang berkisar antara Rp300.000 hingga Rp500.000 untuk setiap stand. Menurut pandangan akuntansi dari Mulyadi (2015), pencatatan keuangan yang disiplin adalah pilar utama untuk mendeteksi kesehatan usaha serta mempermudah pengambilan keputusan taktis.
Angka omzet yang terekam dengan baik menjadi indikator penting dalam mengevaluasi kinerja penjualan mingguan.
Kendati demikian, tantangan klasik berupa konsistensi pencatatan masih membayangi perjalanan bisnis Tahu Kriting Rembo. Terkadang kesibukan melayani pembeli di jam-jam sibuk membuat pencatatan pengeluaran kecil sering kali luput dari perhatian pemilik.
Akibat ketidakkonsistenan ini, sistem pengendalian arus kas (cash flow control) belum dapat berjalan secara optimal sesuai standar manajemen keuangan yang ideal.
Untuk menyiasati kebocoran margin keuntungan, pemilik menerapkan strategi pengendalian biaya yang cukup cerdik melalui pembelian bahan baku secara grosir. Dengan membeli tepung, minyak goreng, dan bahan baku lainnya dalam jumlah besar, usaha ini berhasil mendapatkan potongan harga dari pemasok utama. Langkah ini terbukti efektif dalam memangkas Harga Pokok Produksi (HPP) per porsi tahu yang dijual ke pasar.
Selain pembelian grosir, Tahu Kriting Rembo juga menerapkan sistem penjualan paket campuran dengan memperbanyak porsi produk berbiaya rendah di dalam wadah pembeli.
Konsep efisiensi ini sangat sejalan dengan pemikiran Don R. Hansen dan Maryanne M. Mowen (2009) mengenai pentingnya mengoptimalkan penggunaan sumber daya demi memaksimalkan laba. Margin keuntungan secara keseluruhan dapat terjaga stabil berkat subsidi silang antarproduk tersebut.
Meski begitu, perjalanan usaha ini tidak selalu berjalan mulus tanpa adanya kerikil tajam. Pemilik mengaku pernah mengalami kerugian yang cukup menguras kas akibat kecerobohan dalam memilih bahan baku yang mahal namun ternyata memiliki kualitas rendah di pasar.
Pengalaman pahit tersebut kini menjadi pelajaran berharga dalam membangun hubungan kemitraan yang lebih selektif dengan para pemasok bahan baku lokal.
Ulasan Inwanul Falakh menunjukkan bahwa Tahu Kriting Rembo adalah potret nyata tentang bagaimana teori manajemen dapat diimplementasikan secara praktis.
Meminjam pemikiran Peter F. Drucker (2007), kewirausahaan sejati bukanlah sekadar mengejar keuntungan instan, melainkan sebuah proses pembelajaran dan inovasi yang tiada henti. Dengan komitmen perbaikan pada konsistensi pencatatan, usaha kecil ini memiliki modal sosial dan finansial yang kuat untuk tumbuh menjadi bisnis kuliner yang lebih profesional di masa depan.









