Siasat Musiman Pak Waras: Olah Cengkeh Saat Kemarau, Garap Durian Kala Hujan

Infomojokerto.id – Usaha pengolahan cengkeh milik Bapak Mustain, atau yang akrab disapa Pak Waras, menjadi salah satu penopang utama roda perekonomian masyarakat di Dusun Legundi, Desa Bleberan. Usaha lokal ini berhasil mengoptimalkan potensi komoditas pertanian daerah sekaligus membuka peluang pendapatan bagi warga sekitar.

Menariknya, usaha yang dijalankan Pak Waras beroperasi secara fleksibel mengikuti pergantian musim. Saat musim kemarau tiba, fokus utama diarahkan pada produksi dan pengolahan cengkeh, sedangkan ketika memasuki musim hujan, aktivitas bisnis bergeser ke pengelolaan komoditas durian.

Guna memenuhi kebutuhan produksi cengkeh, Pak Waras mendatangkan bahan baku segar langsung dari daerah penghasil utama di wilayah sekitar, yakni Pacet dan Trawas. Pasokan cengkeh basah ini rutin dikirim untuk diproses lebih lanjut di Dusun Legundi.

Tahapan pengolahan diawali dengan penjemuran cengkeh di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Setelah kering, cengkeh melewati proses pemilahan (sorting) secara teliti untuk memisahkan biji yang mati agar standar mutu produk tetap terjaga.

Setelah memenuhi standar mutu, cengkeh siap dipasarkan ke distributor besar di gudang wilayah Kediri. Saat ini, harga jual cengkeh kering berkisar di angka Rp120.000 per kilogram, sementara cengkeh basah dijual pada kisaran Rp38.000 hingga Rp39.000 per kilogram.

Dari sisi siklus pertanian, panen cengkeh hanya berlangsung satu kali dalam setahun pada puncak musim kemarau. Menariknya, cengkeh membutuhkan rentang waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk menghasilkan aroma khas yang maksimal, serta memiliki daya simpan hingga lima tahun pascapembersihan.

Tidak hanya itu, cengkeh terbukti menjadi komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi karena seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan secara optimal. Sifatnya yang zero waste atau hampir tanpa limbah terbuang menjadikan komoditas ini sangat efisien secara bisnis.

Mahasiswa Prodi Manajemen, Dina Aprilia Putri, mengungkapkan apresiasinya terhadap ketahanan model bisnis musiman ini saat melakukan pengamatan di lapangan.

“Usaha Pak Waras menunjukkan betapa komoditas cengkeh memiliki rantai nilai yang sangat kuat dari hilir ke hulu, sekaligus mampu menjadi jaring pengaman ekonomi warga desa saat siklus panen berlangsung,” ujar Dina.

Observasi dan kajian terhadap usaha lokal ini dilakukan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Latif Syaipudin dan Bambang Wicaksono, S.Pd., M.Ak., pada program KKN Sains STIE Al-Anwar 2026. Pendampingan akademis ini bertujuan untuk memetakan serta mendorong potensi manajemen rantai pasok pertanian lokal agar semakin berdaya saing.

Keberadaan usaha cengkeh milik Pak Waras di Dusun Legundi menjadi bukti nyata bahwa keberlanjutan pertanian lokal yang dikelola dengan cermat mampu memberikan dampak ekonomi nyata dan menjaga kesejahteraan masyarakat Desa Bleberan secara berkesinambungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *