Infomojokerto.id – Gelombang kritik dari kalangan akademisi dan mahasiswa terhadap ruang kebebasan berpendapat di tanah air terus bergulir. Kali ini, para mahasiswa dari Universitas Trisakti secara terbuka menyoroti makin sulitnya aspirasi masyarakat dan gerakan mahasiswa untuk mendapatkan ruang di media sosial.
Keluhan serta kritik tajam tersebut disuarakan lewat orasi ilmiah saat menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026) sore.
Dalam aksi jalanan tersebut, orator perempuan dari Universitas Trisakti menyampaikan keprihatinannya atas fenomena meredupnyagaung gerakan mahasiswa di berbagai platform digital.
Ia menyebut bahwa platform media sosial yang dulunya menjadi alat efektif untuk memperjuangkan aspirasi rakyat kini dinilai tidak lagi memberikan ruang yang berimbang bagi narasi perjuangan publik.
“Kalau lima tahun, 10 tahun yang lalu, viral menjadi senjata kita, tapi hari ini teman-teman, kalian lihat di TikTok, kalian lihat di media sosial, tidak ada lagi namanya aksi. Tidak ada lagi berita-berita yang memviralkan hari ini!” ujar orator dari atas mobil komando.
Kondisi tersebut dinilai para mahasiswa sebagai indikasi nyata adanya upaya pembungkaman terhadap daya kritis publik serta suara keadilan di ruang siber.
“Karena apa, teman-teman? Kita dibungkam,” serunya di hadapan barisan massa aksi yang seketika disambut riuh jawaban setuju dari para peserta unjuk rasa.
Massa aksi juga membeberkan indikasi pembatasan konten digital, di mana berbagai unggahan mengenai aksi demonstrasi disebut tidak bertahan lama dan kerap menghilang dalam kurun waktu kurang dari lima jam.
Selain menyoroti penyempitan ruang siber, mahasiswa Universitas Trisakti turut menyuarakan berbagai isu krusial masyarakat seperti mahalnya biaya pendidikan, persoalan layanan kesehatan, hingga penderitaan warga akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Para pengunjuk rasa mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk terus berempati terhadap masyarakat di daerah terdampak karhutla, khususnya di wilayah Kalimantan yang harus berjuang menghadapi krisis lingkungan dan kesehatan.









