infomojokerto.id – The Summer Hikaru Died (judul asli Jepang: Hikaru ga Shinda Natsu) adalah anime bertema horor psikologis yang diproduksi oleh studio CygamesPictures. Anime ini disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Ryōhei Takeshita, yang sebelumnya dikenal lewat keterlibatannya dalam serial Jujutsu Kaisen. Sentuhan pengarahannya diyakini akan membawa kedalaman emosional dan ketegangan yang kuat dalam adaptasi ini.
Anime ini dijadwalkan tayang perdana pada 5 Juli 2025. Penayangan berlangsung di saluran Nippon TV dan platform Abema untuk wilayah Jepang, sementara secara internasional anime ini dapat disaksikan melalui Netflix.
Yoshiki dan Hikaru adalah dua anak laki-laki yang telah menjalin ikatan persahabatan sejak mereka masih kecil. Mereka tumbuh bersama di sebuah desa terpencil yang dikelilingi pegunungan dan hutan lebat, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Kehidupan mereka sederhana namun penuh kenangan, diwarnai dengan petualangan masa kecil, rahasia yang hanya mereka bagi berdua, serta kehangatan hubungan yang kerap kali terlihat lebih dari sekadar pertemanan biasa.
Namun segalanya berubah pada suatu musim panas yang kelam. Hikaru, tanpa memberi tahu siapa pun secara jelas, pergi mendaki sendirian ke hutan pegunungan yang selama ini dianggap angker oleh penduduk desa. Ia menghilang selama beberapa hari, dan pencarian besar-besaran pun dilakukan oleh warga desa. Ketika akhirnya ia ditemukan dan kembali ke rumah, semua orang lega, kecuali Yoshiki.
Meskipun sosok yang kembali tampak seperti Hikaru, dengan wajah yang sama, suara yang sama, bahkan mengingat setiap momen masa lalu mereka dengan sangat detail, Yoshiki merasakan ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ia mulai mencurigai bahwa teman masa kecilnya telah berubah secara drastis, meski tak tampak secara kasat mata. Tatapan Hikaru kini terasa asing, senyumnya tampak kaku, dan cara bicaranya kadang terasa… bukan manusiawi.
Perasaan curiga Yoshiki memuncak ketika ia akhirnya berkonfrontasi dengan “Hikaru”. Dalam momen yang mencekam, sosok itu mengaku bahwa ia bukanlah manusia, melainkan entitas misterius yang telah mengambil tubuh dan identitas Hikaru. Ia mengaku terpesona oleh kenangan, tubuh, dan perasaan manusia yang begitu dalam khususnya kedekatan emosional Yoshiki terhadap sahabatnya. Meski identitas aslinya tidak diketahui, makhluk itu bersikeras bahwa ia mencintai Yoshiki dan ingin tetap berada di sisinya, meskipun dengan cara yang menyeramkan dan manipulatif.
Yoshiki pun terjebak dalam dilema yang berat. Di satu sisi, ia tahu bahwa yang bersamanya sekarang bukan lagi Hikaru yang asli. Namun di sisi lain, makhluk itu mengingat segalanya tentang mereka berdua, memperlihatkan kasih sayang yang sangat mirip, bahkan terkadang lebih dalam dari yang bisa diungkapkan Hikaru semasa hidupnya. Ia tak hanya harus bergulat dengan rasa takut dan jijik terhadap kebenaran yang mengerikan, tetapi juga dengan rasa kehilangan dan kerinduan yang belum selesai.
Sementara itu, desa tempat mereka tinggal mulai diliputi berbagai kejadian aneh dan mengganggu. Hewan-hewan menghilang, orang-orang bermimpi buruk yang sama, dan suasana mencekam mulai menyelimuti malam hari. Semua ini seolah menjadi pertanda bahwa batas antara dunia manusia dan sesuatu yang jauh lebih tua dan gelap tengah terganggu. Dalam suasana penuh misteri itu, Yoshiki menyadari bahwa kehadiran “Hikaru” bukan hanya ancaman terhadap dirinya, tetapi juga terhadap keselamatan seluruh desa.
Dengan nuansa horor psikologis yang pekat dan eksplorasi tema kehilangan, identitas, dan cinta yang menyimpang, kisah ini menjadi perjalanan emosional yang kelam. Yoshiki harus memutuskan apakah ia akan mempertahankan “sahabat”-nya yang telah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa dipahami, atau mengakhiri segalanya demi keselamatan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.









