Manfaat Email, Akademisi Manfaatkan Peluang Interaksi Keilmuan Internasional

Infomojokerto.id – Di tengah kemajuan teknologi digital, email tidak lagi sekadar alat komunikasi pribadi. Bagi para akademisi, email telah menjelma sebagai pintu masuk untuk terhubung dengan dunia keilmuan internasional.

Hal ini dirasakan langsung oleh Dr. Latif Syaipudin, M.Pd., dosen STIE Al-Anwar Mojokerto yang juga alumnus UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Lewat surat elektronik, Dr. Latif kini aktif menjadi reviewer bagi jurnal-jurnal ilmiah internasional. Salah satunya adalah African Educational Research Journal (AERJ), jurnal bereputasi dari Afrika yang mempercayainya untuk mengevaluasi artikel dari berbagai penulis mancanegara.

Dalam tangkapan layar email yang dibagikannya, tampak jelas bagaimana proses review dilakukan. Ia menerima undangan untuk menjadi reviewer, lalu mengirimkan kembali hasil evaluasi serta saran revisi melalui lampiran email yang telah dipindai sistem Gmail.

“Yang saya rasakan, lewat email ini saya bisa masuk ke komunitas akademik global meskipun secara geografis saya berada di Mojokerto,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi lintas negara dalam dunia akademik seharusnya sudah bisa dibangun sejak lama.

Sayangnya, kesadaran akan pentingnya jurnal internasional di kalangan akademisi Indonesia baru meningkat beberapa tahun belakangan, terutama sejak tahun 2020-an ketika dorongan publikasi semakin tinggi.

Pengalaman menjadi reviewer jurnal, menurut Dr. Latif, bukan hanya memberikan kontribusi intelektual, tapi juga membuka jejaring global yang sangat berharga. Ia menyebut bahwa email memegang peran penting dalam membangun interaksi tersebut bukan hanya untuk mengirim file, tapi juga membangun kredibilitas akademik.

“Email itu bukan sekadar alat tukar informasi, tapi juga alat untuk menunjukkan eksistensi ilmiah kita di dunia luar,” jelasnya lebih lanjut.

Sebagai dosen akuntansi, Dr. Latif juga berharap agar para akademisi di Indonesia baik yang sudah menjadi dosen maupun yang belum—berani mengambil langkah serupa. Ia menyarankan untuk mulai dari hal sederhana, seperti aktif menulis dan mengirim artikel ke jurnal luar, serta tidak ragu menerima tawaran menjadi reviewer.

Melalui pengalaman ini, ia menjadi contoh nyata bahwa keterlibatan dalam percakapan ilmiah internasional bukan lagi mimpi.

“Kita tidak harus pergi ke luar negeri untuk bisa terlibat secara global. Cukup dengan koneksi internet dan email yang digunakan secara produktif,” katanya.

Kini, ia tengah mendorong kolega dan mahasiswa pascasarjana di sekitarnya untuk mulai memanfaatkan email sebagai media membangun komunikasi ilmiah. Karena baginya, kontribusi akademik bukan soal lokasi, melainkan kemauan untuk terlibat dan berbagi ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *