Infomojokerto.id – Di sudut Gang Santren, Dusun Kedungmaling, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah cerita tentang dedikasi yang tak lekang oleh waktu. Adalah Bakso Saropah, sebuah usaha kuliner sederhana yang telah menjadi bagian dari memori kolektif warga sekitar selama lebih dari tiga puluh tahun, bertahan di tengah gempuran tren makanan modern yang silih berganti.
Sosok di balik layar usaha ini adalah Yuk Pa atau De Pa oleh para pelanggannya. Di usianya yang kini menginjak 64 tahun, perempuan asli Mojokerto ini masih menunjukkan semangat kerja yang luar biasa, melayani pembeli setianya dari pagi hingga sore hari tanpa lelah.
Eksistensi Bakso Saropah sejak tahun 1990 bukanlah waktu yang singkat. Menariknya, Yuk Pa memiliki prinsip kerja yang sangat disiplin; beliau berjualan setiap hari tanpa absen. Bahkan, ketika momen Idul Fitri tiba, sesaat setelah melaksanakan salat Id, beliau langsung bersiap di lapaknya untuk melayani warga yang mencari hidangan hangat.
Berbeda dengan penjual bakso pada umumnya yang berkeliling mencari pembeli, Yuk Pa memilih untuk tetap setia berjualan di dalam gang. Lokasi yang statis ini tidak menghalangi langkah para pelanggan setianya, mulai dari pekerja yang sedang beristirahat hingga warga yang kebetulan melintasi kawasan Santren.
Rahasia umur panjang usaha ini terletak pada cita rasanya yang konsisten. Warga sekitar mengenal bakso Yuk Pa memiliki kuah yang gurih dengan pentol daging yang khas, ditambah sedikit tekstur lemak sapi (gajih) yang menambah kelezatan. Keunikan rasa inilah yang menciptakan loyalitas pelanggan lintas generasi selama puluhan tahun.
Namun, di balik kelezatan dan popularitasnya, terdapat tantangan manajemen keuangan yang cukup pelik di era ekonomi saat ini. Melalui observasi lapangan yang dilakukan oleh Ida Masitoh, mahasiswa Program Studi Manajemen STIE Al-Anwar Mojokerto, terungkap sisi lain dari kondisi dapur keuangan usaha legendaris ini.
Dalam tinjauan ekonomi makro, kenaikan harga bahan pokok sering kali mencekik pelaku usaha mikro yang enggan menaikkan harga jual secara drastis. Yuk Pa saat ini mematok harga Rp 7.000 per porsi, sebuah harga yang sangat murah namun berisiko tinggi terhadap keberlangsungan margin keuntungan usaha.
Berdasarkan laporan keuangan yang disusun untuk kebutuhan riset mahasiswa, diketahui bahwa biaya operasional harian Yuk Pa cukup tinggi. Untuk mengolah daging sebanyak 2,5 kg, diperlukan biaya sekitar Rp 320.000. Jika ditambah dengan biaya bumbu, pelengkap, gas, dan kemasan plastik, total modal atau biaya kulakan mencapai Rp 400.000 per hari.
Ironisnya, dengan rata-rata penjualan sebanyak 50 porsi per hari, pendapatan atau omset harian yang diterima Yuk Pa hanya mencapai Rp 350.000. Hal ini menunjukkan adanya selisih minus atau kerugian sebesar Rp 50.000 setiap harinya jika dihitung secara matematis berdasarkan biaya produksi dan harga jual saat ini.
Fenomena ini dalam teori manajemen sering dikaitkan dengan Self-Exploitation pada UMKM, di mana pelaku usaha sering kali tidak menghitung upah tenaga kerja sendiri atau menggunakan subsidi silang dari kebutuhan rumah tangga untuk menutupi biaya operasional demi tetap bisa melayani pelanggan.
Meskipun secara angka akuntansi menunjukkan kerugian, semangat Yuk Pa untuk terus bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak pernah padam. Beliau adalah representasi nyata dari ekonomi rakyat yang bergerak bukan semata-mata demi akumulasi modal, melainkan sebagai bentuk pengabdian dan keberlangsungan hidup.
Riset yang dilakukan mahasiswa STIE Al-Anwar ini memberikan wawasan penting bahwa UMKM legendaris membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam hal edukasi penentuan harga pokok penjualan (HPP) agar usaha yang telah berdiri selama 34 tahun ini tidak hanya bertahan secara sosial, tetapi juga sehat secara finansial.
Kisah Bakso Saropah adalah potret nyata bahwa di balik setiap suap makanan yang kita nikmati, ada perjuangan ekonomi yang besar. Keberadaan Yuk Pa di Gang Santren adalah bukti bahwa ketulusan dalam melayani adalah nyawa bagi sebuah usaha, meski tantangan ekonomi di hari tua kian nyata menghadang.









