Infomojokerto.id – Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, momentum untuk mengenang perjuangan kaum santri dan ulama dalam menegakkan kemerdekaan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tahun 2025 ini, peringatan Hari Santri mengangkat semangat baru: menegaskan peran santri dalam membangun bangsa, termasuk di dunia politik nasional.
Menurut Mohammad Rosyidi, Drs. SE., MM., Ph.D., alumni Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo, mantan Anggota DPRD Jawa Timur periode 2019–2024 dan kini aktif sebagai Wakil Rektor IV Universitas Primagraha Serang Banten serta Wakil Ketua III Bidang Kerjasama STIE Al-Anwar berpendapat bahwa santri bukan hanya identik dengan aktivitas mengaji dan memperdalam ilmu agama.
“Santri adalah simbol keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal. Mereka memiliki karakter kuat, disiplin, dan semangat pengabdian kepada bangsa,” ujarnya dalam refleksi Hari Santri 2025.
Rosyidi menegaskan, sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern saat ini, santri selalu hadir di setiap fase perjalanan bangsa.
Salah satu tonggak sejarah penting adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan oleh KH. Hasyim Asy’ari peristiwa monumental yang menjadi dasar lahirnya Hari Santri Nasional. Seruan itu, katanya, bukan hanya panggilan perang, tetapi juga panggilan iman dan cinta tanah air.
Kini, kiprah santri telah merambah berbagai bidang, termasuk dunia politik. “Bagi santri, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi ladang pengabdian untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan umat,” jelasnya.
Menurutnya, santri yang terjun ke dunia politik harus membawa nilai-nilai pesantren: jujur, tawadhu, amanah, dan tegas dalam prinsip.
Rosyidi juga mengingatkan bahwa tantangan santri di era globalisasi kian kompleks. Arus informasi yang cepat dan dinamika politik modern menuntut santri untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
“Santri harus menjadi penjaga moral bangsa di tengah krisis nilai dan menjadi pelopor perubahan positif bagi masyarakat,” tambahnya.
Bagi Rosyidi, Hari Santri bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen bahwa santri harus terus hadir di setiap lini kehidupan bangsa termasuk dalam politik dengan semangat pengabdian dan cinta tanah air.
“Santri harus menjadi pelita di tengah gelapnya zaman, menjadi penuntun moral, dan teladan dalam berpolitik yang berakhlakul karimah,” pungkasnya.









