infomojokerto.id – Upin & Ipin Universe, game adaptasi dari serial animasi legendaris asal Malaysia, dirilis dengan harapan besar dari para penggemar. Namun, kenyataannya jauh dari ekspektasi. Sejak awal peluncurannya, game ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, baik pemain kasual maupun komunitas gamer internasional.
Salah satu masalah utama yang banyak dikeluhkan adalah bug dan gangguan teknis. Pemain melaporkan berbagai kendala, mulai dari karakter yang tersangkut di objek, game yang tiba-tiba tertutup, hingga penurunan frame rate yang parah bahkan pada perangkat berspesifikasi tinggi. Glitch grafis, tampilan layar hitam, serta masalah kamera membuat pengalaman bermain terasa tidak nyaman. Banyak yang menilai game ini dirilis dalam kondisi seperti versi beta, belum siap untuk pasar.
Selain itu, harga yang dipatok juga menjadi sorotan. Dengan banderol sekitar MYR 170 atau setara Rp650 ribu, banyak yang menilai harga tersebut tidak sebanding dengan kualitas yang ditawarkan. Beberapa gamer bahkan menyebutnya memiliki kualitas indie dengan harga setara game AAA.
Masalah tidak berhenti di situ. Gameplay yang seharusnya menjadi daya tarik utama justru terasa hambar. Dunia open-world yang dijanjikan terasa kosong, minim interaksi, dan misi yang repetitif membuat pemain cepat bosan. NPC yang tidak hidup, animasi yang kaku, dan kurangnya tantangan memperkuat kesan bahwa game ini belum matang secara desain. Dan dari sisi visual, meski atmosfer kampung dibuat indah dan autentik, animasi karakter serta interaktivitas dunia di dalamnya tidak maksimal. Padahal game ini dibangun menggunakan Unreal Engine 5 yang dikenal mampu menghasilkan kualitas grafis tinggi. Kritik juga muncul terkait ketidaknyamanan dalam mengendalikan kamera dan pergerakan karakter.
Ada juga masalah yang terjadi pada para streamer streamer yang memainkan game ini, seperti contohnya Windah Basudara, ia terkena Copyright setelah melakukan streamin game Upin dan Ipin Universe dengan total view sekitar 4,5 juta, Akibat klaim ini, seluruh pendapatan iklan dari video tersebut dialihkan ke Les’ Copaque, meskipun Windah telah membeli gamenya secara resmi. Windah menyatakan kekecewaannya, terutama karena ia merasa tidak didukung oleh studio, padahal konten tersebut juga turut mempromosikan game.
Masalah eksternal turut memperburuk citra game ini. Laporan mengenai dugaan karyawan Streamline Studios yang bekerja tanpa dibayar selama berbulan-bulan, serta manajemen yang dianggap buruk, memicu kontroversi besar. Isu ini memunculkan seruan boikot di media sosial, khususnya dari komunitas gamer Malaysia yang merasa kecewa.
Secara keseluruhan, Upin & Ipin Universe memiliki potensi besar berkat IP yang kuat dan atmosfer lokal yang menarik. Namun, peluncuran yang dipenuhi bug, gameplay yang dangkal, harga yang tidak sepadan, dan isu internal pengembang membuatnya sulit diterima. Kini, harapan para penggemar terletak pada langkah perbaikan dari tim pengembang, mulai dari patch teknis hingga komunikasi yang lebih baik dengan komunitas, agar reputasi game ini bisa diperbaiki di masa mendatang.









