Infomojokerto.id – Di sudut Desa Jatipasar, sebuah warung sederhana berdiri sebagai saksi bisu perjalanan waktu. Warung milik Bu Gemi ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan simbol ketangguhan ekonomi mikro yang telah teruji sejak tahun 2010.
Namun, di balik konsistensinya selama lebih dari satu dekade, tersimpan sebuah tantangan klasik yang lazim ditemui pada usaha kecil: pengelolaan keuangan yang masih “abu-abu”.
Perjalanan Bu Gemi merintis usaha dimulai dengan langkah yang sangat bersahaja. Tanpa bangunan khusus, ia menyulap ruang tamu rumahnya menjadi tempat berjualan dengan modal awal hanya Rp 200.000. Siapa sangka, dari modal yang setara dengan harga beberapa kilogram daging saat ini, usahanya mampu bertahan melewati berbagai guncangan ekonomi selama 14 tahun.
Kini, warungnya menjajakan beragam kebutuhan harian. Mulai dari kehangatan sayur lodeh dan pecel yang segar, hingga aneka jajanan, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Keberagaman produk ini menjadi magnet bagi masyarakat sekitar untuk terus kembali.
Dalam sebuah observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan oleh Khurnia Setya Rahmawati baru-baru ini, terungkap bahwa operasional harian warung ini memiliki pola yang unik. Setiap harinya, Bu Gemi mengeluarkan modal belanja sekitar Rp 150.000 dengan omzet rata-rata Rp 100.000, yang bisa merosot hingga Rp 50.000 di hari-hari sepi.
“Uang hasil penjualan biasanya langsung diputar kembali untuk stok barang esok hari,” ungkap Khurnia Setya Rahmawati mahasiswa Prodi Akuntansi STIE Al-Anwar semester ini dalam catatan evaluasinya.
Menariknya, tidak ada pemisahan antara uang hasil usaha dengan uang pribadi sebuah praktik yang secara akuntansi disebut belum memenuhi prinsip Economic Entity Assumption.
Merujuk pada teori akuntansi dari Kieso, Weygandt, dan Warfield (2020), pemisahan keuangan pribadi dan usaha sangat krusial agar informasi keuangan objektif. Tanpa adanya catatan tertulis, Bu Gemi sering kali kesulitan menilai apakah usahanya benar-benar untung atau justru sedang mengalami penurunan kinerja.
Potensi kerugian juga sering kali muncul dari sisi persediaan. “Makanan seperti lodeh atau pecel yang tidak habis biasanya dikonsumsi sendiri, sementara kerupuk yang melempem atau jajanan kedaluwarsa terpaksa dibuang,” tambah Khurnia.
Secara sistematis, hal ini merupakan beban yang mengurangi laba bersih, namun sering kali tak disadari karena tidak terdokumentasi secara periodik sebagaimana disarankan oleh pakar akuntansi Hery (2015).
Meskipun memiliki ketahanan (resilience) yang luar biasa, Warung Bu Gemi sebenarnya memerlukan sentuhan manajemen keuangan yang lebih modern namun tetap sederhana. Sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) yang diterbitkan IAI (2016), sebuah usaha mikro minimal memiliki catatan posisi keuangan dan laba rugi sederhana.
Langkah kecil seperti mulai mencatat pengeluaran harian dan memisahkan dompet usaha dari dompet rumah tangga diyakini akan membawa perubahan besar. Dengan begitu, Bu Gemi bisa lebih sigap menghadapi kenaikan harga bahan baku dan meminimalkan potensi kerugian dari piutang pelanggan yang tidak tercatat.
Kisah Warung Bu Gemi adalah pengingat bahwa ketekunan adalah modal utama, namun manajemen keuangan yang rapi adalah kunci untuk tumbuh lebih stabil. Dengan perbaikan kecil dalam pencatatan, warung yang telah berdiri sejak 2010 ini berpeluang untuk terus melayani warga Jatipasar hingga puluhan tahun ke depan dengan kondisi finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan.









