Infomojokerto.id – Di balik kepulan asap tungku di Desa Tambakagung, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah narasi tentang ketangguhan ekonomi lokal. Adalah UMKM Tahu Tambak Sari, sebuah usaha keluarga yang menjadi subjek penelitian mendalam oleh Risma Apriliani Laksono, mahasiswa Prodi Manajemen STIE Al-Anwar Mojokerto. Risma menyoroti bagaimana pengelolaan harga pokok standar menjadi instrumen vital dalam menjaga napas bisnis ini tetap panjang di tengah persaingan yang kian sengit.
Penerapan harga pokok standar di UMKM ini memiliki keunikan tersendiri karena berfokus sepenuhnya pada efisiensi bahan baku dan overhead. Risma mencatat bahwa strategi ini diambil lantaran seluruh proses produksi dikelola secara mandiri oleh pemilik tanpa melibatkan tenaga kerja eksternal. Sesuai dengan teori Mulyadi (2016) dalam Akuntansi Biaya, penentuan standar di awal menjadi acuan utama untuk memastikan setiap kilogram kedelai mampu menghasilkan output tahu yang optimal dan bernilai ekonomi tinggi.
Secara konseptual, harga pokok standar di Tahu Tambak Sari adalah refleksi dari seluruh pengorbanan material yang ditentukan di muka. Tanpa adanya komponen upah kerja formal, pemilik usaha justru bisa lebih luwes namun tetap ketat dalam mengawasi sektor bahan baku. Hal ini selaras dengan pemikiran Hansen & Mowen (2015) yang menekankan pentingnya manajemen biaya manajerial untuk mendeteksi pemborosan sejak dini, seperti penggunaan air atau bahan bakar yang berlebihan.
Dalam kesehariannya, pemilik UMKM ini menerapkan kuota standar penggunaan kedelai per satu kali masak atau per loyang. Fokus utama dialihkan sepenuhnya untuk memantau fluktuasi harga kedelai di pasar lokal yang sering kali tidak menentu. Dengan meniadakan beban gaji dalam kalkulasi, margin keuntungan dapat dipantau lebih jernih hanya melalui selisih harga jual dan total belanja material produksi.
Langkah operasional yang dilakukan Risma dalam observasinya mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari perendaman hingga pemisahan sari tahu. Karena sifatnya yang mandiri, pemilik merangkap peran sebagai manajer produksi sekaligus pengemas produk. Di sini, integritas kualitas tetap terjaga meski pengawasan dilakukan secara personal, memastikan tekstur dan rasa tahu tetap konsisten di mata pelanggan setia mereka.
Tidak hanya di dapur, efisiensi berlanjut hingga ke tahap distribusi ke pasar-pasar di wilayah Mojokerto menggunakan kendaraan pribadi. Usaha ini bahkan tetap sanggup melayani pesanan khusus untuk hajatan dengan standar kualitas yang presisi. Pengawasan mandiri terhadap bahan pembantu seperti cuka tahu menjadi kunci agar produk tidak kehilangan karakteristiknya, meski volume produksi sedang mengalami lonjakan.
Lonjakan permintaan biasanya terjadi saat hari-hari besar, di mana kapasitas peralatan harus dipacu hingga titik maksimal. Menariknya, meski jam produksi bertambah, pemilik tetap memilih untuk tidak menambah personil berbayar. Hal ini mengakibatkan peningkatan biaya pada variabel lain seperti listrik dan bahan bakar, yang secara akuntansi dikategorikan sebagai biaya eksplisit sesuai dengan catatan nota pembelian kedelai dan perawatan rutin mesin giling.
Risma menemukan bahwa penerapan harga pokok standar sangat efektif untuk mendeteksi “kebocoran” biaya pada sektor energi. Melalui perawatan tungku masak yang terjadwal, efisiensi waktu pematangan sari tahu dapat ditingkatkan secara signifikan. Pendekatan praktis ini membuktikan bahwa optimalisasi alat produksi yang sudah ada jauh lebih berharga daripada menambah beban biaya tetap yang belum mendesak.
Keuletan pemilik dalam menyusun jadwal masak yang teratur menjadi bukti nyata manajemen waktu yang sehat. Peningkatan output tahu berhasil dicapai tanpa harus menambah beban biaya variabel di luar bahan baku utama. Dalam perspektif Horngren, Datar, & Rajan (2018), penguasaan atas perilaku biaya variabel ini adalah fondasi bagi UMKM untuk tetap kompetitif di pasar yang dinamis.
Ketelitian dalam mencatat setiap penggunaan material berdasarkan standar yang ada menjadi hal yang sangat vital bagi profitabilitas usaha. Dengan pencatatan yang transparan, pemilik dapat mengetahui margin keuntungan bersih secara akurat. Hal ini memberikan ketenangan batin bagi pengusaha karena mereka memiliki data yang kuat untuk menentukan langkah bisnis selanjutnya tanpa bayang-bayang utang gaji.
Lebih jauh lagi, harga pokok standar berperan sebagai perisai saat harga kedelai dunia mengalami kenaikan tajam. Pemilik dapat dengan cepat menyesuaikan ukuran produk atau harga jual agar tetap masuk akal di kantong masyarakat. Sinergi antara operasional dan strategi harga ini sejalan dengan prinsip pemasaran Kotler & Keller (2016) tentang pentingnya nilai produk yang seimbang dengan harganya.
Pengelolaan biaya yang sistematis juga mempermudah pemilik dalam mengambil keputusan strategis, seperti rencana penambahan mesin baru di masa depan. Analisis selisih antara biaya material aktual dan standar membantu mengidentifikasi inefisiensi yang mungkin tersembunyi. Dari sini, tercipta kedisiplinan penggunaan sumber daya yang kemudian dialokasikan kembali sebagai modal untuk memperluas jangkauan pasar di Mojokerto.
Pada akhirnya, penelitian Risma Apriliani Laksono menyimpulkan bahwa harga pokok standar adalah elemen fundamental bagi keberlangsungan UMKM Tahu Tambak Sari. Dengan manajemen biaya yang sehat dan keuletan personal, bisnis keluarga ini mampu menjaga stabilitas keuangan bulanan. Harapannya, konsistensi dalam pencatatan akuntansi biaya ini akan membawa Tahu Tambak Sari tumbuh menjadi bisnis lokal yang semakin mandiri dan berdaya saing tinggi.









