Infomojokerto.id – Dunia kuliner selalu menjadi primadona dalam sektor ekonomi kreatif, terutama di kalangan anak muda yang berani mencoba peluang. Salah satu contoh nyata yang menginspirasi adalah “Jajanan Maminul”, sebuah usaha makanan ringan yang berawal dari ketidaksengajaan.
Berlokasi di Mojokerto, usaha ini membuktikan bahwa dapur rumah bisa menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan jika dikelola dengan strategi yang tepat dan pencatatan yang disiplin.
Usaha yang dirintis oleh Dini Khofifah Sari, seorang mahasiswa aktif, ini bermula dari hobi memasak di sela-sela kesibukan kuliah. Percobaan awal membuat risoles yang kemudian ditawarkan ke grup WhatsApp kelas ternyata mendapat sambutan luar biasa dari rekan sejawat.
Kini, setelah tiga tahun berjalan, “Jajanan Maminul” telah berkembang menjadi bisnis kuliner yang dikenal melalui produk unggulannya seperti Risoles Mentai, Mayo, hingga Dimsum Ayam yang menggugah selera.
Syafa’atul Utma Prodi Akuntansi STIE Al-Anwar Mojokerto dalam observasi penelitiannya, melihat fenomena ini bukan sekadar transaksi jual beli biasa. Lokasi riset yang berfokus pada dinamika UMKM di lingkungan sekitar menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi digital sangat mendukung pertumbuhan bisnis mikro.
Dengan modal awal berupa kreativitas, Dini mampu menjangkau pasar yang loyal tanpa harus memiliki gerai fisik yang besar di pusat kota.
Secara teoretis, keberhasilan usaha ini didukung oleh penerapan akuntansi sederhana. Dalam literatur akuntansi, pencatatan keuangan tidak harus selalu kompleks dengan laporan audit yang rumit; bagi UMKM, intinya adalah pemisahan entitas antara uang pribadi dan uang usaha.
Teori ini menekankan pada pencatatan aliran kas masuk (pemasukan) dan kas keluar (pengeluaran) secara kronologis untuk memotret kondisi keuangan yang sebenarnya.
Sistem penjualan Pre-Order (PO) dan Cash on Delivery (COD) yang diterapkan adalah sebuah langkah efisiensi yang cerdas. Sistem PO meminimalkan risiko sisa bahan baku yang terbuang (food waste), sehingga modal yang dikeluarkan benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
Hal ini merupakan bentuk manajemen persediaan yang sangat efektif bagi pengusaha pemula dengan modal terbatas namun memiliki visi jangka panjang.
Dalam pengamatannya, peneliti menemukan bahwa Dini sangat teliti dalam merinci biaya produksi. Mulai dari pembelian ayam 1 kg seharga Rp35.000 hingga komponen kecil seperti kemasan seharga Rp10.000, semuanya tercatat dengan rapi.
Ketelitian dalam menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) ini menjadi fondasi penting agar harga jual—seperti Risoles Mentai di harga Rp15.000—tetap kompetitif tanpa mengorbankan margin keuntungan.
Interpretasi terhadap model bisnis ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya transparansi keuangan. Ketika pengusaha mampu menghitung bahwa laba bersih adalah selisih dari total penjualan dikurangi biaya bahan dan operasional, mereka sedang membangun benteng pertahanan bisnisnya. Misalnya, jika sehari meraup Rp300.000 dengan biaya Rp200.000, laba Rp100.000 tersebut menjadi bukti nyata bahwa usaha tersebut sehat secara finansial.
Lebih lanjut, teori akuntansi mengenai pemisahan kas menjadi kunci sukses Jajanan Maminul yang sudah bertahan selama tiga tahun. Banyak UMKM tumbang di tahun pertama karena mencampurkan dompet pribadi dengan modal usaha.
Dengan memisahkan kedua pos tersebut, pengusaha tidak akan terjebak dalam delusi keuntungan yang mengakibatkan modal kerja tergerus untuk keperluan konsumsi pribadi.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, peneliti berpendapat bahwa aspek “human touch” dalam sistem COD menjadi nilai tambah tersendiri. Pengantaran pesanan secara langsung tidak hanya menghemat biaya ekspedisi bagi pelanggan, tetapi juga membangun hubungan personal yang erat. Dalam ekonomi kreatif, kepercayaan pelanggan adalah aset tak berwujud yang nilainya seringkali lebih tinggi daripada sekadar aset lancar berupa uang tunai.
Interpretasi peneliti juga menyoroti bagaimana produk seperti Udang Keju dan Dimsum Mentai mengikuti tren pasar terkini.
Adaptasi produk terhadap selera lidah modern adalah bagian dari inovasi ekonomi kreatif yang harus didukung oleh manajemen keuangan yang lincah. Akuntansi sederhana membantu Dini mengetahui produk mana yang paling banyak memberikan kontribusi margin terbesar bagi usahanya.
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa literasi keuangan bagi pelaku usaha mikro adalah hal yang mutlak. Jajanan Maminul bukan hanya soal rasa risoles yang enak, tetapi tentang bagaimana seorang pengusaha mampu membaca angka-angka di balik dapurnya.
Akuntansi sederhana telah menjadi kompas yang mengarahkan bisnis ini agar tetap berada di jalur yang menguntungkan dan terhindar dari risiko kerugian yang tak terduga.
Melalui tulisan ini, peneliti berharap para pelaku usaha kecil lainnya dapat meniru langkah Dini Khofifah Sari. Mulailah mencatat setiap rupiah yang keluar dan masuk, karena dari catatan kecil itulah sebuah bisnis besar biasanya dilahirkan.
Ekonomi kreatif Indonesia akan semakin kuat jika setiap unit usahanya memiliki pondasi akuntansi yang kokoh meski dilakukan dengan cara yang paling sederhana sekalipun.









