Infolamongan.id – Dalam lima tahun terakhir, minat masyarakat terhadap dunia investasi mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Tak lagi sekadar menabung di bank, masyarakat kini mulai menjajal pasar modal, reksa dana, hingga kripto. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal di Indonesia meningkat dua kali lipat dibanding lima tahun sebelumnya.
Namun di balik tren positif ini, muncul ancaman berbahaya: “tikus-tikus investasi” — istilah yang merujuk pada pelaku-pelaku penipuan berkedok investasi yang memanfaatkan euforia masyarakat untuk mengeruk keuntungan pribadi.
Modus penipuan yang digunakan para penjahat ini kian canggih dan menyamar dalam berbagai bentuk. Mulai dari platform digital investasi bodong, janji keuntungan tinggi dalam waktu singkat, hingga penyalahgunaan nama tokoh publik atau lembaga keuangan resmi.
“Saya pernah ditawari investasi saham berbasis aplikasi, dijanjikan profit 20% per bulan. Ternyata aplikasi itu ilegal. Setelah transfer Rp5 juta, akun saya tak bisa diakses,” ujar Winarno, warga Karanggeneng, Lamongan, yang menjadi salah satu korban.
Para pelaku sering menyasar masyarakat yang masih awam dengan dunia keuangan. Mereka mengandalkan iming-iming hasil tinggi tanpa risiko serta narasi-narasi sukses palsu di media sosial.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah beberapa kali mengungkap daftar perusahaan investasi ilegal. Namun faktanya, setiap bulan selalu ada korban baru berjatuhan.
Ciri-ciri Investasi yang Patut Diwaspadai:
- Menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat.
- Tidak memiliki izin resmi dari OJK atau Bappebti.
- Sistem rekrutmen yang mirip MLM (berbasis anggota).
- Tidak transparan soal risiko dan legalitas usaha.
- Minta transfer dana ke rekening pribadi atau tidak resmi.
Pemerintah dan pelaku industri keuangan terus mengimbau masyarakat untuk berinvestasi secara bijak, memilih produk yang diawasi dan legal, serta selalu melakukan riset sebelum menanamkan dana.
Investasi Cerdas, Bukan Serakah
Edukasi menjadi kunci utama. Investasi yang benar selalu memiliki risiko dan perlu waktu. Masyarakat harus memahami bahwa jika terdengar terlalu indah untuk jadi kenyataan, bisa jadi itu penipuan.
“Jangan tergoda dengan janji manis. Tikus-tikus investasi ini hanya ingin menguras dompet Anda,” tegas pengamat pasar modal, Dwi Rahayu.








