Banyak Warga Merasa Tak Sejahtera Tapi Masuk Desil 9-10, Begini Keluhannya

Infomojokerto.id – Kata “desil 10” tiba-tiba ramai diperbincangkan di media sosial. Keramaian itu muncul setelah banyak warganet mencoba mengecek posisi ekonomi keluarganya melalui data pemerintah.

Hasil pengecekan itu justru membuat sebagian orang kaget dan tidak sesuai dengan kenyataan sehari-hari.

Banyak warganet mengaku hasil cek mereka masuk desil 9 hingga desil 10. Padahal secara ekonomi mereka merasa masih pas-pasan.

Keluhan pun bermunculan di berbagai platform.

Ada yang bercerita masih tinggal di rumah kontrakan dengan penghasilan setara UMR, namun tercatat sebagai kelompok desil atas.

Kondisi ini memicu pertanyaan publik tentang bagaimana pemerintah menghitung peringkat kesejahteraan satu keluarga.

Beberapa pengguna juga menyebut penghasilan mereka terbatas. Tidak punya rumah pribadi, tidak punya kendaraan mewah, bahkan masih hidup pas-pasan dari gaji ke gaji. Namun tetap masuk kategori desil tinggi.

Hal yang sama juga dialami warga di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Warga bernama Titik (30) dan Ama (27) tercatat berada di desil 10. Sementara Lusi (31) masuk desil 9.

“Titik mengaku heran dengan hasil tersebut karena menurutnya tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.

“Padahal saya enggak punya mobil. Saya merasa data ini tidak transparan. Kemarin sensus ekonomi katanya tujuannya untuk pemutakhiran desil, tapi kok setelah disensus tidak sesuai fakta,” lanjutnya.

Senada dengan Titik, Ama juga masuk desil 10. Padahal ia mengaku hanya memiliki satu sepeda motor untuk kebutuhan sehari-hari.

Ramainya keluhan ini membuat publik mempertanyakan kembali metode dan indikator yang dipakai pemerintah dalam menentukan desil.

Warga berharap ada penjelasan lebih rinci agar data DTSEN benar-benar bisa menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan dan tidak menimbulkan kebingungan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *