Infomojokerto.id – Definisi liburan bagi pelajar dan mahasiswa kini tengah mengalami pergeseran makna yang menarik. Tidak lagi sekadar berburu spot foto instagramable atau mengunjungi destinasi populer semata, liburan kini bertransformasi menjadi kesempatan emas untuk belajar langsung dari pengalaman nyata di lapangan.
Tren wisata edukasi ini menjadi sorotan Hermina Efamutan, mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Akademi Pariwisata 45 Jayapura. Dalam tulisannya, Hermina menyoroti adanya kebutuhan baru dari generasi muda untuk memahami fenomena sosial dan lingkungan secara langsung sebuah pengalaman yang sering kali tidak dapat ditemukan di dalam ruang kelas konvensional.
Pergeseran ini muncul dari kesadaran kolektif bahwa meja belajar bukanlah satu-satunya tempat untuk menuntut ilmu. Menurut Hermina, ketika mahasiswa mengunjungi museum, mengamati ekosistem hutan, atau berdialog dengan warga desa budaya, mereka sejatinya sedang memperdalam materi yang selama ini hanya tersaji dalam buku teks.
Dalam konteks mata kuliah Tata Pergaulan dan Etika, pengalaman lapangan ini menjadi sangat relevan. Hermina menekankan bahwa interaksi dengan masyarakat lokal atau pemandu profesional selama berwisata bukan hanya soal jalan-jalan, melainkan praktik nyata dalam mengasah soft skills.
“Interaksi dengan masyarakat lokal menumbuhkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan adaptasi. Ini adalah soft skills yang krusial untuk masa depan,” ungkap Hermina dalam narasinya.
Lebih dari sekadar menambah wawasan, wisata edukasi memiliki peran vital dalam pembangunan karakter. Keberanian mengambil keputusan di lingkungan baru serta kepedulian terhadap alam dan budaya lokal tumbuh subur melalui pengalaman langsung ini.
Bagi mahasiswa Akademi Pariwisata, menyadari bahwa kekayaan Indonesia bukan hanya pemandangan indah, melainkan juga sejarah panjang dan tradisi luhur, adalah pondasi penting dalam karier mereka kelak.
Namun, tren positif ini bukan tanpa tantangan. Hermina juga memberikan catatan kritis terhadap pelaksanaan wisata edukasi yang terkadang “salah arah”. Masih banyak ditemui program yang akhirnya hanya menjadi ajang foto bersama tanpa esensi pembelajaran yang jelas.
Hal ini sering kali disebabkan oleh:
-
Kurangnya materi edukasi yang berbobot.
-
Minimnya pemandu wisata yang kompeten.
-
Tidak adanya kolaborasi yang baik antara institusi pendidikan dan pengelola wisata.
Agar wisata edukasi tidak kehilangan arah, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pengelola destinasi, dan institusi pendidikan. Sekolah dan kampus perlu merancang kurikulum lapangan yang terstruktur agar kegiatan ini benar-benar menjadi jembatan antara teori dan realitas.
Sebagaimana disimpulkan oleh Hermina Efamutan, wisata edukasi yang dikelola dengan baik akan mengubah liburan menjadi ruang belajar yang terbuka, hidup, dan bermakna. Bagi mahasiswa, ini adalah cara menyenangkan untuk memperkaya pengetahuan sekaligus mematangkan etika dan karakter mereka sebelum terjun ke dunia profesional.









