Menilik Perjuangan Inspiratif Pak Ndut di Sudut Kota Mojokerto dengan Usaha Jualan Keripik

Infomojokerto.id – Sore itu di kawasan Benteng Pancasila (Benpas), Mojokerto, semilir angin membawa aroma khas bumbu dapur yang menggoda. Di antara keriuhan pedagang, tampak sosok pria bersahaja yang akrab disapa Pak Ndut. Di usianya yang telah melampaui 65 tahun, semangatnya tidak memudar, justru semakin renyah layaknya keripik singkong asin manis yang ia jajakan setiap hari.

Pak Ndut adalah sosok asli Kedungsari yang menjadi bukti nyata bahwa usia hanyalah angka dalam kamus kerja keras. Jika pagi hingga siang ia bisa ditemukan di daerah Wates dekat SMPN 09 Mojokerto, maka saat matahari mulai condong ke barat hingga malam hari, posisinya berpindah ke Benteng Pancasila. Tempat ini telah menjadi saksi bisu bagaimana ia menyambung hidup untuk keluarganya.

Bulan Ramadan yang penuh berkah pun tidak menjadi penghalang bagi Pak Ndut. Bagi saya pribadi, dedikasi beliau sangat luar biasa; meski sedang menjalankan ibadah puasa, beliau tetap setia berdiri di balik dagangannya. Keripik singkong buatannya bukan sekadar makanan ringan biasa, melainkan camilan andalan yang selalu saya suguhkan kepada tamu yang berkunjung ke rumah karena rasanya yang begitu khas.

Ada keunikan tersendiri dari produk Pak Ndut. Keripik ini didapatkan dari tengkulak, namun rahasia kelezatannya terletak pada sentuhan tangan dingin beliau sendiri. Pak Ndut meracik bumbu asin manis khasnya, lalu mengaduknya dengan penuh kesabaran hingga setiap keping singkong terbalut bumbu dengan sempurna. Ini adalah bentuk nilai tambah (value added) yang ia berikan pada produk mentahnya.

Peneliti Ramdhan Ega Pratama mahasiswa Prodi S1 Manajemen STIE Al-Anwar Mojokerto semester 4 dalam kajiannya mencoba menggali lebih dalam mengenai dapur keuangannya, Pak Ndut dengan halus menolak membeberkan harga modal maupun identitas tengkulaknya. Sikap ini sangat wajar dalam dunia bisnis mikro sebagai strategi perlindungan usaha agar resep dan rantai pasokannya tetap terjaga. Namun, beliau sempat membocorkan bahwa margin keuntungan yang diambilnya tergolong sangat tipis.

Beliau hanya mengambil untung berkisar 10% hingga 20% dari harga jual per kemasan 250 gram. “Sing penting berkah dan bisa buat makan sehari-hari,” ujarnya singkat. Kalimat sederhana ini mencerminkan filosofi hidup yang mendalam, di mana keberlangsungan hidup lebih diutamakan daripada pengejaran profit yang eksploitatif.

Berdasarkan pengamatan dan asumsi peneliti, mari kita bedah struktur biayanya. Jika harga awal dari tengkulak diasumsikan Rp8.000, ditambah biaya bumbu racikan Rp1.000, serta biaya kemasan dan plastik sekitar Rp200, maka total biaya produksi (COGS) mencapai Rp9.200 per bungkus. Dengan harga jual Rp12.000, Pak Ndut mengantongi laba kotor sebesar Rp2.800 per 250 gram.

Secara volume, Pak Ndut mampu menjual sekitar 4 hingga 5 kilogram keripik setiap harinya. Jika kita konversikan ke dalam satuan gram (4.000-5.000 gram), maka setiap harinya beliau menjual antara 16 hingga 20 bungkus ukuran 250 gram. Ini berarti pendapatan harian beliau berada di kisaran Rp192.000 hingga Rp240.000.

Jika dikalkulasikan lebih lanjut, keuntungan bersih harian yang didapat Pak Ndut adalah sekitar Rp44.800 hingga Rp56.000. Angka ini mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, namun bagi Pak Ndut, angka tersebut adalah nafas bagi dapur rumah tangganya. Di sini kita melihat implementasi nyata dari teori Subsistence Economy atau ekonomi subsisten.

Dalam teori keuangan mikro, apa yang dilakukan Pak Ndut disebut sebagai pengelolaan Working Capital yang sangat ketat. Beliau mengandalkan perputaran uang tunai yang cepat (cash turnover) setiap harinya. Tanpa adanya akses ke lembaga keuangan formal, beliau harus mampu mengelola arus kas agar besok pagi tetap bisa membeli bahan baku dari tengkulak.

Analisis keuangan juga menunjukkan adanya strategi Competitive Pricing. Dengan harga Rp12.000 per 250 gram, Pak Ndut memposisikan dirinya sebagai pilihan camilan rakyat yang terjangkau. Margin yang tipis dikompensasi dengan loyalitas pelanggan—seperti saya—yang terus kembali karena rasa bumbu racikannya yang tidak ditemukan di tempat lain.

Dari sisi manajemen risiko, keputusan Pak Ndut untuk berjualan di dua lokasi berbeda (Wates di pagi hari dan Benpas di sore hari) adalah strategi Location Diversification. Hal ini bertujuan untuk menangkap segmen pasar yang berbeda, mulai dari orang tua murid di sekolah hingga masyarakat umum yang sedang berjalan-jalan sore di pusat keramaian.

Namun, di balik angka-angka tersebut, ada aspek Social Capital yang kuat. Hubungan baiknya dengan pembeli dan integritasnya dalam menjaga kualitas rasa adalah aset yang tidak tercatat dalam neraca keuangan manapun. Pak Ndut bukan sekadar penjual keripik; ia adalah simbol ketangguhan ekonomi lokal Mojokerto yang bertahan di tengah gempuran produk pabrikan.

Kisah Pak Ndut mengajarkan kita bahwa transparansi keuangan mungkin penting bagi audit pemerintah, namun bagi pelaku UMKM mikro, kejujuran pada diri sendiri dan konsistensi adalah kunci utama. Menjelang berbuka puasa, renyahnya keripik Pak Ndut akan terus menemani warga Mojokerto, membawa cerita tentang keringat dan doa di setiap kepingnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *