Infomojokerto.id – Industri perhotelan yang sangat bergantung pada interaksi manusia membutuhkan pemimpin yang unggul dalam mengelola relasi dan emosi. Dalam konteks ini, Almendita H. Sopacua, mahasiswa Program Studi Perhotelan Akademi Pariwisata (Akpar) 45 Jayapura, menyoroti peran strategis kepemimpinan perempuan yang membawa keunggulan unik dalam dinamika layanan.
Menurut Almendita, perempuan sering memiliki keunggulan dalam dimensi empati, sensitivitas interpersonal, dan perhatian terhadap detail. Karakteristik ini dinilainya sangat selaras dengan tuntutan industri hospitality.
“Pemimpin perempuan, dengan kapasitas tersebut, mampu mengarahkan tim untuk tidak sekadar menjalankan prosedur, tetapi menghadirkan pengalaman menginap yang bermakna,” ujar Almendita, yang tulisannya berada di bawah supervisi Ketua Program Studi Perhotelan, Rizky Adithia Putra Usulu, S.Par., MM.Par.
Dalam perspektif tata pergaulan, ia menambahkan bahwa gaya kepemimpinan perempuan cenderung lebih inklusif dan partisipatif. Mereka membangun suasana kerja yang suportif, mendorong komunikasi dua arah, dan memberi ruang masukan dari berbagai level staf sebuah pola yang krusial untuk sinergi antar departemen hotel.
Namun, keunggulan ini masih berhadapan dengan kenyataan sosial dan stereotip yang kompleks. Almendita, yang juga belajar Etika di bawah bimbingan Nur Mahmudah El Madja, S.Sos., M.Med.Kom., dosen pengampu Mata Kuliah Tata Pergaulan dan Etika, menyoroti adanya bias yang membuat posisi strategis puncak di industri perhotelan masih didominasi laki-laki.
“Kepemimpinan yang tegas sering dipersepsikan identik dengan maskulinitas, sementara gaya kepemimpinan perempuan yang lebih dialogis dan relasional kerap diremehkan, meskipun justru gaya inilah yang dibutuhkan dalam layanan berbasis hospitality,” katanya.
Tantangan lain yang menghadang adalah isu keseimbangan peran. Jam kerja hotel yang panjang dan tidak teratur sering berbenturan dengan tanggung jawab domestik yang secara kultural dibebankan kepada perempuan.
Almendita menekankan bahwa manajemen hotel memiliki kewajiban etis untuk memastikan prinsip keadilan dan kesetaraan gender terimplementasi secara nyata. Kebijakan institusional seperti pengaturan jadwal yang manusiawi atau fasilitas pendukung keluarga dinilai esensial untuk mendukung karier perempuan.
Di sisi lain, ia juga memberikan pesan kepada para pemimpin perempuan yang telah mencapai posisi strategis:
“Pemimpin perempuan yang telah menembus posisi strategis juga memikul tanggung jawab moral sebagai teladan dan mentor, membuka jalur bagi generasi berikutnya agar tidak harus mengulang hambatan yang sama,” terangnya.
Almendita menyimpulkan bahwa penguatan peran perempuan adalah strategi bisnis yang rasional, bukan hanya isu keadilan.
Keragaman perspektif di jajaran pimpinan terbukti berkorelasi dengan meningkatnya inovasi, kepuasan karyawan, dan kualitas layanan, yang berujung pada budaya organisasi yang lebih humanis dan berorientasi pada keberlanjutan.








