Infomojokerto.id – Jauh sebelum mal dan pusat perbelanjaan modern menjamur, Kota Mojokerto sudah memiliki denyut hiburan yang cukup berwarna di masa kolonial.
Pada periode 1918-1942, saat statusnya berubah menjadi Stadsgemeente (kota madya), Mojokerto bukan hanya sibuk membenahi administrasi pemerintahan, tetapi juga mulai membangun ruang-ruang kesenangan bagi warganya.
Berdasarkan catatan sejarah dalam jurnal SINDANG karya Firmanda Dwi Septiawan (2022) berjudul “Dinamika Sosial Perkembangan Pemerintahan Gemeente Mojokerto Tahun 1918-1942.”
Pemerintah Stadsgemeente Mojokerto kala itu mulai menyadari pentingnya tempat hiburan bagi masyarakat. Di tengah upaya membangun fasilitas dasar seperti menara air dan MCK umum, pemerintah juga memfasilitasi berdirinya bangunan-bangunan untuk hiburan publik.
Salah satu yang paling diminati adalah bioskop. Di masa itu, menonton film atau menyaksikan panggung sandiwara menjadi ajang rekreasi utama.
Keramaian tidak hanya terpusat pada pasar malam yang rutin digelar, tetapi juga pada gedung-gedung pertunjukan yang menjadi simbol modernitas masyarakat perkotaan di awal abad ke-20.
Namun, hiburan di Mojokerto kala itu juga mencerminkan stratifikasi sosialnya. Selain fasilitas yang disediakan pemerintah, pihak swasta terutama perusahaan industri turut membangun fasilitas hiburan mereka sendiri.
Dalam laporan Kerchman (1930) yang dikutip oleh Septiawan, terungkap bahwa di sekitar Pabrik Gula Ketanen, terdapat sebuah gedung Societeit. Gedung ini berfungsi sebagai tempat pertemuan sosial bagi kaum elit dan ekspatriat Eropa.
Tak hanya berdansa atau berbincang, di lokasi ini juga tersedia lapangan tenis, menunjukkan bahwa gaya hidup sehat dan olahraga kelas atas sudah mulai diperkenalkan di Mojokerto sejak sebelum kemerdekaan.
Dinamika hiburan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah kolonial untuk mengalihkan kebiasaan masyarakat.
Jika sebelumnya warga bumiputra lebih banyak menghabiskan waktu di area sungai untuk aktivitas harian, keberadaan MCK umum serta tempat hiburan seperti pasar malam dan bioskop pelan-pelan mengubah pola interaksi sosial masyarakat di ruang publik.
Mojokerto di masa Stadsgemeente memang masih dalam tahap transisi. Meski awalnya kantor walikota dan administrasi masih menumpang di rumah-rumah sewa yang terpisah-pisah, semangat untuk membangun kota yang “lengkap” mulai dari infrastruktur air bersih hingga gedung pertunjukan telah meletakkan fondasi bagi wajah Kota Mojokerto yang kita kenal hari ini.








