Menelisik Legenda Kolam Candi Tikus melalui Struktur Cerita Rakyat Trowulan Mojokerto

Infomojokerto.id – Peninggalan Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, selalu menyimpan daya tarik historis dan mitologis yang mendalam bagi masyarakat. Salah satu objek yang memiliki narasi tutur yang kuat adalah Kolam Candi Tikus, sebuah situs petirtaan kuno yang memiliki keterikatan erat dengan masa kejayaan masa lampau.

Dalam sebuah penelitian berjudul “Legenda Kolam Petirtaan di Kabupaten Mojokerto: Kajian Sosiologi Sastra Lisan” yang dipublikasikan pada tahun 2020, Icha Fadhilasari menguraikan struktur legenda ini secara mendalam. Analisis ini memberikan gambaran mengenai bagaimana alur cerita dan elemen-elemen di dalamnya membentuk identitas situs tersebut.

Menurut Icha, alur cerita legenda ini dimulai dengan penegasan bahwa Kolam Candi Tikus merupakan peninggalan sah dari Kerajaan Majapahit. Keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah besar yang melatarbelakangi wilayah Mojokerto sebagai pusat pemerintahan masa lalu.

Icha menjelaskan dalam narasinya bahwa sosok Hayam Wuruk memegang peranan penting sebagai Raja Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-14. Kepemimpinan raja besar ini menjadi salah satu pilar utama yang membangun konteks waktu dan pelaku dalam legenda yang berkembang di masyarakat.

Lebih lanjut, analisis tersebut menyebutkan adanya pergantian kepemimpinan, di mana raja sebelumnya yang memegang takhta adalah Tribuana Tungga Dewi. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan sejarah yang terekam dalam ingatan kolektif masyarakat melalui sastra lisan petirtaan tersebut.

Mengenai fungsinya, Icha memaparkan bahwa Kolam Candi Tikus ini pada masanya digunakan sebagai tempat pemandian bagi Raja, para Putri, dan permaisuri. Fungsi ini menegaskan status situs tersebut sebagai area eksklusif bagi kalangan bangsawan kerajaan.

Terdapat pula aspek filosofis yang kuat, di mana bangunan candi dipercaya melambangkan kesucian Gunung Mahameru. Dalam keyakinan masyarakat saat itu, gunung tersebut dianggap sebagai tempat suci yang menjadi titik bersemayamnya Para Dewa.

Icha juga mencatat bahwa Gunung Mahameru dipercaya merupakan tempat sumber air suci yang dikenal sebagai Tirta Amerta. Keyakinan akan keberadaan air kehidupan ini memberikan nilai sakral tersendiri pada arsitektur dan keberadaan kolam tersebut.

Berdasarkan data penelitian tersebut, air di kolam ini dipercaya mempunyai kekuatan magis yang bisa memberi kesejahteraan bagi siapa saja yang menggunakannya. Keyakinan ini menunjukkan adanya hubungan antara fisik bangunan dengan harapan spiritual masyarakat.

Sebelum mengadakan upacara adat tertentu, para bangsawan atau pelaku ritual biasanya melakukan prosesi mandi di Kolam Candi Tikus. Hal ini menjadi prosedur wajib untuk membersihkan diri sebelum melakukan kegiatan yang bersifat sakral.

Selain untuk urusan ritual dan pembersihan diri, Icha menuliskan bahwa lokasi ini juga digunakan sebagai tempat rekreasi oleh Raja Hayam Wuruk. Sisi rekreasi ini memberikan dimensi lain pada fungsi situs tersebut, tidak hanya sebagai tempat suci namun juga tempat peristirahatan.

Menariknya, asal-usul penamaan situs ini juga dijelaskan dalam narasi Icha Fadhilasari berdasarkan cerita warga setempat. Penamaan “Candi Tikus” bermula dari kondisi fisik situs tersebut saat pertama kali ditemukan oleh masyarakat.

Dinamakan Kolam Candi Tikus oleh warga karena pada saat ditemukan, lokasi tersebut menjadi gundukan sarang tikus. Tikus-tikus tersebut pada masa itu dikenal sering menyerang padi milik warga, sehingga menjadi hama yang meresahkan petani di sekitar Trowulan.

Icha merumuskan elemen-elemen cerita ini ke dalam istilah teknis atau terem, di mana ‘a’ mewakili Kolam Candi Tikus dan ‘a1’ mewakili Kerajaan Majapahit. Simbol-simbol ini digunakan untuk memudahkan pemetaan struktur legenda secara ilmiah.

Nama-nama tokoh seperti Raja Hayam Wuruk disimbolkan sebagai ‘a2’ dan Raja Tribuana Tungga Dewi sebagai ‘a3’. Sementara itu, aktivitas pemandian raja dan permaisuri dikategorikan ke dalam kode ‘b’ sebagai bagian dari fungsi bangunan tersebut.

Icha juga menyertakan elemen Gunung Mahameru sebagai ‘b1’, Para Dewa sebagai ‘b2’, dan Air Tirta Amerta sebagai ‘b3’. Komponen-komponen ini membangun nuansa mitis yang kuat dalam struktur cerita rakyat di Kabupaten Mojokerto tersebut.

Efek dari keberadaan air tersebut, yaitu kesejahteraan, diberi simbol ‘c’, sedangkan aktivitas lain seperti upacara adat disimbolkan ‘c1’ dan rekreasi sebagai ‘c2’. Warga sebagai subjek penyampai cerita disimbolkan dengan ‘c3’ dan gundukan sarang tikus sebagai ‘c4’.

Dalam analisis fungsi perbuatannya, Icha menggunakan kode ‘x’ untuk menunjukkan peninggalan, kurun waktu abad 13-14, serta penggunaan tempat tersebut. Kode ‘y1’ digunakan khusus untuk menunjukkan aktivitas bersemayam, dan ‘z1’ untuk aksi menyerang yang dilakukan oleh tikus.

Seluruh elemen tersebut menurut Icha membentuk sebuah formula alur legenda asal-usul Kolam Candi Tikus yang unik. Formula ini menggambarkan keterkaitan antara peninggalan sejarah, kepercayaan terhadap dewa, hingga peristiwa serangan hama yang dialami oleh warga.

Sebagai penutup narasi penelitian tahun 2020 tersebut, Icha menegaskan bahwa legenda ini merupakan perpaduan antara fakta sejarah Majapahit dan persepsi sosiologis masyarakat Trowulan. Struktur yang sistematis ini membuktikan bahwa sastra lisan memiliki pola yang tetap dalam menyampaikan pesan budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *