Menyingkap Fungsi Sosial dan Budaya di Balik Legenda Petirtaan Jalatundo, Kolam Segaran dan Candi Tikus Mojokerto

Infomojokerto.id – Kabupaten Mojokerto, sebagai pusat peninggalan kemegahan Majapahit, menyimpan berbagai situs petirtaan yang kaya akan narasi lisan. Legenda Kolam Segaran, Candi Tikus, dan Candi Jalatunda bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan memiliki fungsi sosial yang mendalam bagi masyarakat pendukungnya.

Secara umum, folklor atau cerita rakyat di kawasan ini memiliki fungsi yang sejalan dengan teori Hutomo (1991) dan Alan Dundes (1965), yakni sebagai alat pendidikan, penebal solidaritas, hingga sarana pelarian dari kenyataan.

1. Fungsi Legenda Kolam Segaran: Simbol Kemakmuran dan Identitas

Kolam Segaran merupakan situs peninggalan Majapahit yang sangat legendaris. Legenda yang menyertainya memiliki beberapa fungsi utama:

  • Sebagai Alat Pendidikan dan Identitas: Legenda ini memperkenalkan generasi muda pada kebesaran sejarah lokal. Pemugaran yang dilakukan sejak tahun 1926 hingga 1984 menegaskan bahwa kolam ini adalah aset budaya yang harus dijaga sebagai identitas nasional.
  • Peningkatan Solidaritas Sosial: Masyarakat Trowulan menggunakan kolam ini sebagai wadah penampung air untuk irigasi. Nilai fungsional yang dibalut legenda ini menyatukan masyarakat dalam upaya pelestarian teknologi “bangunan basah” warisan leluhur.
  • Sarana Kritik Sosial dan Pesan Moral: Cerita tentang pembuangan perabotan emas (tupperware kuno) setelah menjamu tamu asing adalah kritik terhadap kesombongan sekaligus bukti kejayaan ekonomi. Namun, legenda ini juga memberi pesan agar masyarakat tidak memperjualbelikan artefak yang ditemukan secara ilegal demi kekayaan pribadi.
  • Hiburan dan Imajinasi: Nama “Segaran” (dari kata Segara atau Laut) membangkitkan imajinasi masyarakat tentang “laut buatan” di tengah daratan, menjadikannya tempat rekreasi dan pemancingan yang menyenangkan.

2. Fungsi Legenda Candi Tikus: Spiritualitas dan Penolak Bala

Berbeda dengan Segaran yang menonjolkan kemewahan, Candi Tikus sangat kental dengan fungsi mitologi pertanian:

  • Sebagai Kekuatan Magis dalam Kehidupan: Masyarakat meyakini air dari pancuran Candi Tikus memiliki kekuatan magis. Hal ini bersumber dari konsep Hindu-Buddha mengenai Gunung Meru sebagai pusat air kehidupan.
  • Sanksi dan Solusi Sosial (Tradisi Pertanian): Ada legenda tentang seorang petani dari Desa Temon yang mendapatkan wisik (wangsit) untuk mengambil air dari Candi Tikus guna mengusir hama tikus. Cerita ini berfungsi memberikan harapan dan solusi spiritual bagi petani yang putus asa menghadapi gagal panen.
  • Sarana Integrasi Masyarakat Antar-Daerah: Keyakinan akan kemanjuran air Candi Tikus menarik peziarah dari luar daerah seperti Jombang, Bojonegoro, bahkan Jawa Barat. Hal ini menciptakan interaksi sosial dan ekonomi antar-wilayah yang luas.

3. Fungsi Legenda Candi Jalatunda: Berkah dan Misteri

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Jalatunda memiliki fungsi yang berpusat pada tokoh Airlangga:

  • Penebal Perasaan Solidaritas Kolektiva: Legenda Airlangga dan Dewi Kilisuki menciptakan ikatan batin masyarakat terhadap silsilah leluhur mereka.
  • Edukasi Nilai Perjuangan: Melalui kisah perintah Darmawangsa kepada Airlangga, masyarakat belajar tentang ketaatan, tanggung jawab, dan kerja keras dalam mendirikan sebuah peradaban (Kahuripan).
  • Optimisme Ekonomi: Kepercayaan bahwa air Jalatunda membawa rejeki (mathirta) memberikan dampak psikologis positif bagi pengunjung, yang pada akhirnya memajukan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata religi.

Warisan yang Tak Lekang Oleh Waktu

Meskipun zaman telah berubah dan banyak generasi muda menganggap cerita ini tidak masuk akal, fungsi-fungsi sosial di atas membuktikan bahwa legenda kolam petirtaan di Mojokerto tetap relevan. Ia bertindak sebagai kompas moral, penjaga harmoni dengan alam, serta perekat solidaritas sosial yang memastikan nilai-nilai luhur Majapahit tidak hilang ditelan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *