Menelusuri Jejak Airlangga: Misteri dan Berkah di Kolam Candi Jalatunda

Infomojokerto.id – Kecamatan Trawas di Kabupaten Mojokerto tidak hanya menawarkan udara sejuk pegunungan, tetapi juga menyimpan situs sejarah yang penuh mistis, yaitu Candi Jalatunda. Melalui kacamata penelitian sosiologi sastra lisan, legenda kolam petirtaan ini dibedah menggunakan teori struktur Maranda untuk mengungkap hubungan antar-elemen ceritanya.

Kisah ini bermula dari sosok Airlangga, seorang putra bangsawan yang berasal dari Pulau Bali. Dalam struktur narasi ini, identitas Airlangga sebagai pendatang dari tanah seberang menjadi titik awal yang sangat penting dalam membangun alur cerita sejarah lokal di Jawa Timur.

Airlangga diketahui memiliki ayah bernama Darmawangsa. Hubungan darah ini menjadi penggerak utama cerita, di mana seorang ayah memberikan mandat besar kepada putranya untuk menentukan nasib dan masa depan wilayah kekuasaan yang baru.

Dalam perjalanan hidupnya, Darmawangsa menyuruh Airlangga untuk meninggalkan Bali dan pergi menuju Tanah Jawa. Perintah ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah misi besar untuk memperluas pengaruh dan membangun peradaban baru.

Tujuan utama Airlangga dikirim ke Tanah Jawa adalah untuk mendirikan sebuah kerajaan. Kerajaan tersebut kemudian dikenal dengan nama Kahuripan, yang kelak menjadi salah satu kekuatan besar di tanah Jawa pada masa silam.

Setelah berhasil menapaki tanah Jawa, Airlangga kemudian dinobatkan menjadi Raja Kahuripan. Penobatan ini menandai fase baru dalam hidupnya, dari seorang putra yang menjalankan tugas menjadi pemimpin tertinggi yang memegang kendali pemerintahan.

Namun, dalam membangun Kerajaan Kahuripan, Airlangga tidak berjalan sendirian. Ia dikisahkan bergabung dengan Dewi Kilisuki, sosok perempuan yang memiliki peran krusial dalam dinamika kekuasaan dan spiritualitas di masa pemerintahan tersebut.

Hubungan antara Airlangga dan Dewi Kilisuki rupanya dibumbui dengan elemen yang tidak biasa. Narasi ini menyebutkan bahwa terdapat tekanan misteri yang melingkupi hubungan mereka, menciptakan suasana mistis di balik berdirinya pusat pemerintahan.

Tekanan misteri inilah yang kemudian menjadi latar belakang terciptanya sebuah mahakarya fisik. Mereka membangun sebuah tempat pemandian yang sejak awal pembangunannya sudah dianggap menyimpan rahasia atau misteri yang mendalam.

Tempat pemandian tersebut kini kita kenal sebagai Kolam Candi Jalatunda. Hingga saat ini, situs tersebut berdiri kokoh di lereng Gunung Penanggungan dan menjadi saksi bisu atas sejarah panjang yang melibatkan Airlangga dan Dewi Kilisuki.

Salah satu elemen terpenting dalam legenda ini adalah air yang mengalir di kolam tersebut. Masyarakat meyakini bahwa air Jalatunda bukan sekadar air biasa, melainkan zat yang dianggap membawa rezeki melimpah bagi siapa saja yang bersentuhan dengannya.

Kepercayaan ini memicu lahirnya keyakinan yang kuat di tengah masyarakat luas. Banyak orang percaya bahwa dengan mandi di petirtaan Jalatunda, mereka akan mendapatkan dampak positif, keberkahan, serta kemudahan dalam hidup.

Secara struktural, penelitian ini membedah alur tersebut menggunakan kode khusus N untuk Legenda Kolam Candi Jalatunda. Penggunaan simbol terem ‘a’ untuk Airlangga dan ‘a1’ untuk Bali memudahkan pemetaan asal-usul tokoh utama dalam narasi ini.

Simbol ‘a2’ merujuk pada Darmawangsa, sementara ‘a3’ adalah Tanah Jawa sebagai lokasi tujuan. Kode-kode ini membentuk formula yang menunjukkan perpindahan geografis sekaligus perpindahan status sosial dari seorang putra menjadi seorang pendiri kerajaan.

Kerajaan Kahuripan sendiri disimbolkan dengan ‘b’, sementara status Airlangga sebagai raja diberi kode ‘b1’. Kehadiran Dewi Kilisuki sebagai mitra Airlangga ditandai dengan simbol ‘b2’, yang melengkapi struktur kepemimpinan dalam cerita tersebut.

Aspek misteri dalam pembangunan fisik ditandai dengan ‘b3’ untuk Pemandian Misteri dan ‘c’ untuk Kolam Candi Jalatunda itu sendiri. Struktur ini menunjukkan transisi dari ide yang abstrak (misteri) menjadi bentuk fisik yang nyata (kolam candi).

Elemen terakhir dalam struktur ini adalah air (c1) dan orang-orang atau masyarakat (c2). Hubungan antara air yang membawa rezeki dan orang yang mandi di sana menciptakan fungsi relasional yang bersifat spiritual dan sosiologis.

Analisis fungsinya pun sangat detail, mulai dari fungsi ‘x1’ sebagai putra hingga ‘x8’ yang menggambarkan kepemilikan. Fungsi ‘y2’ mengenai tekanan misteri menjadi jembatan menuju fungsi ‘y3’, yaitu proses pembuatan pemandian tersebut.

Istilah mathirta juga muncul dalam analisis ini, yang secara harfiah berarti air yang membawa rezeki. Hal ini selaras dengan fungsi ‘z1’ dalam penelitian yang mendefinisikan air sebagai pembawa berkat bagi mereka yang memiliki keyakinan.

Pada akhirnya, legenda Kolam Candi Jalatunda bukan hanya tentang situs arkeologi. Melalui struktur narasi yang dibedah, kita dapat melihat bagaimana sejarah, kekuasaan, dan keyakinan masyarakat terhadap hal-hal gaib menyatu menjadi satu kesatuan budaya yang tetap lestari di Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *