Infomojokerto.id – Peringatan Hari Besar Keagamaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto di Pendopo Graha Maja Tama, Kamis (11/9) pagi, berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara yang dihadiri ratusan ASN, lembaga keagamaan, hingga penggiat ojek online itu menghadirkan ulama kharismatik, KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq, sebagai pembicara tausiyah.
Dalam mauizah hasanahnya, Gus Muwafiq menekankan bahwa memperingati Maulid Nabi bukan sekadar seremonial, melainkan sarana untuk memperkuat keimanan sekaligus meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Rasulullah merupakan sosok pembawa rahmat yang ajarannya tetap relevan hingga masa kini.
“Perayaan Maulid Nabi adalah bentuk rasa syukur kita karena telah diberikan teladan agung, Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau hadir membawa rahmat, sehingga kita bisa belajar bagaimana hidup dengan cinta kasih, toleransi, dan persaudaraan,” ujar Gus Muwafiq di hadapan para jamaah.
Tausiyah tersebut semakin menambah kekhidmatan acara yang sebelumnya dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan sambutan dari Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa. Gus Bupati dalam pesannya juga mengingatkan pentingnya bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tertera dalam Al-Quran Surat Yunus ayat 58 dan Surat Al-Anbiya ayat 107.
Sementara itu, Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Mojokerto, Bambang Purwanto, menyebutkan bahwa kegiatan tahunan ini diikuti oleh lebih dari 600 undangan. Selain aparatur sipil negara, acara juga turut diramaikan oleh organisasi keagamaan dan komunitas masyarakat.
Menurut Bambang, momentum Maulid Nabi di Mojokerto tidak hanya menjadi ajang memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi juga wadah memperkuat ukhuwah islamiyah dan mempererat silaturahmi antara ASN dan masyarakat.
Di akhir acara, jamaah menyimak dengan khusyuk pesan-pesan Gus Muwafiq yang mengajak umat Islam untuk menjadikan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup. Dengan begitu, peringatan Maulid bukan sekadar tradisi, melainkan pijakan untuk memperbaiki diri dan memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.









