Infomojokerto.id – Partisipasi PGTK Mutiara Anak Sholeh 2 dalam Majapahit Brass Symphony 2026 bukan sekadar mengejar piala. Dari kacamata psikologi perkembangan, ajang ini berfungsi sebagai sarana edukasi dini yang krusial bagi pembentukan karakter anak.
Menghadapi kompetisi di usia emas (golden age) membantu anak-anak untuk mengenali potensi diri dan belajar mengelola emosi dalam situasi tertekan.
Psikolog pendidikan menekankan bahwa latihan kepercayaan diri harus dimulai sejak dini agar anak tidak tumbuh dengan rasa cemas yang berlebihan di depan publik.
Melalui drumband atau brass symphony, anak diajarkan untuk bekerja dalam tim, menyelaraskan ego, dan mengikuti harmoni. PGTK Mutiara Anak Sholeh 2 telah berhasil mengimplementasikan nilai-nilai ini melalui persiapan mereka yang matang untuk ajang Wali Kota Mojokerto Cup.
Kompetisi seperti ini memberikan pengalaman langsung (experiential learning) tentang apa itu kemenangan dan bagaimana menyikapi kekalahan. Saat anak-anak melihat 28 peserta lainnya dari Sidoarjo dan Pasuruan, mereka belajar tentang keragaman dan sportivitas.
Ini adalah bentuk simulasi kehidupan nyata yang dikemas dalam bentuk kegiatan seni yang menyenangkan dan penuh warna.
Keberanian anak untuk tampil di babak penyisihan pada Sabtu (25/4) merupakan pencapaian psikologis yang luar biasa. Tidak mudah bagi anak usia TK/PAUD untuk berdiri tegak membawa instrumen di bawah sorot lampu dan tatapan juri.
PGTK Mutiara Anak Sholeh 2 memberikan pendampingan yang tepat sehingga anak-anak merasa aman dan didukung, bukan sekadar dipaksa untuk tampil.
Dukungan yang mengalir di laman Votera juga memberikan dampak psikologis secara tidak langsung kepada orang tua dan lingkungan sekolah.
Ketika orang tua merasa bangga dan menunjukkan dukungan positif, anak akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan dihargai oleh lingkungan terdekatnya. Hal ini akan meningkatkan “self-esteem” atau harga diri anak secara signifikan dalam jangka panjang.
Selain itu, aspek regulasi diri anak juga diasah dalam ajang ini. Mereka harus menunggu giliran tampil, menahan diri untuk tidak lari dari barisan, dan tetap mengikuti ritme kelompok.
Kedisiplinan ini adalah fondasi penting yang akan sangat berguna saat mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi nantinya. PGTK Mutiara Anak Sholeh 2 secara cerdas memanfaatkan musik sebagai medianya.
Menariknya, kompetisi ini juga mengajarkan anak-anak tentang keberanian menghadapi kegagalan teknis di lapangan. Jika ada nada yang salah atau barisan yang kurang rapi, mereka diajarkan untuk tetap lanjut dan memberikan yang terbaik hingga akhir.
Pelajaran tentang “resiliensi” atau daya lenting ini adalah harta karun yang lebih berharga daripada piala fisik yang mereka perebutkan.
Kesimpulannya, Majapahit Brass Symphony adalah panggung di mana teori-teori psikologi tentang keberanian dipraktikkan. PGTK Mutiara Anak Sholeh 2 telah membuktikan bahwa mereka peduli pada kesehatan mental dan perkembangan karakter anak melalui partisipasi aktif ini.
Kemenangan di Votera hanyalah bonus dari keberhasilan utama: melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berani.









