Jejak Sejarah Qurban, Hikmah dan Teladan yang Tak Lekang oleh Zaman

Infomojokerto.id – Ibadah qurban telah melewati sejarah panjang sejak zaman Nabi Adam AS hingga Rasulullah Muhammad SAW.

Setiap generasi Nabi membawa nilai, bentuk, dan makna qurban yang berbeda, namun tetap berlandaskan pada ketaatan kepada Allah SWT.

Drs. H. Usman Daud, MA., Konsultan Hukum Islam dan Keluarga menerangkan beberapa sejarah dan pandangannya soal kurban.

Qurban Zaman Nabi-Nabi Terdahulu

Kisah dua putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, menjadi awal sejarah qurban manusia. Allah hanya menerima qurban dari Habil yang dilandasi keikhlasan, sementara qurban Qabil ditolak karena niat yang keliru.

Di zaman Nabi Idris AS, qurban dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan sebagai hari raya. Sementara itu, setelah banjir besar, Nabi Nuh AS meletakkan qurban di tempat khusus, lalu membakarnya sebagai bentuk penghambaan.

Nabi Ibrahim AS menjadi sosok yang paling melekat dalam sejarah qurban. Ia nyaris menyembelih putranya Ismail sebagai wujud ketaatan mutlak kepada Allah, sebelum kemudian diganti dengan seekor sembelihan agung.

Pada masa Nabi Musa AS, qurban dilakukan dengan membagi hewan menjadi dua: sebagian dilepaskan, dan sebagian lainnya disembelih. Sementara di kalangan Bani Israil, qurban yang diterima adalah yang dibakar oleh api putih dari langit.

Qurban juga menjadi bagian penting dalam ajaran Nabi Zakaria dan Yahya AS, di mana qurban binatang dan barang-barang dibakar. Bangsa Yahudi dan Nasrani pun memiliki bentuk qurban, yakni dengan membakar hewan sebagai pengingat dosa.

Penyimpangan Kaum Jahiliyah dan Lurusnya Tradisi Islam

Bangsa Arab Jahiliyah melakukan qurban bukan untuk Allah, melainkan untuk berhala. Mereka mempersembahkan binatang kepada patung-patung dan bahkan mencipratkan darah ke Ka’bah. Namun, hal ini kemudian diluruskan oleh Islam.

Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW, juga punya kisah qurban tersendiri. Karena nazarnya, ia hendak mengorbankan anaknya Abdullah. Namun setelah diundi, ia menggantikannya dengan 100 ekor unta.

Kesempurnaan Qurban pada Zaman Nabi Muhammad SAW

Puncak dari sejarah qurban terletak pada masa Rasulullah SAW. Pada Haji Wada’, beliau menyembelih 100 ekor unta—70 ekor dengan tangannya sendiri dan 30 sisanya oleh Sayyidina Ali RA. Ini bukan hanya syiar ibadah, melainkan manifestasi cinta dan ketaatan sejati kepada Allah SWT.

Qurban bukan sekadar menyembelih, melainkan menumpahkan darah sebagai bentuk ibadah paling dicintai Allah di Hari Raya Idul Adha, sebagaimana sabda Nabi:
“Tiada satu amal pun yang dilakukan seorang anak manusia pada Yaumun-Nahr yang lebih dicintai oleh Allah selain menumpahkan darah (hewan qurban yang disembelih)” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Makna Qurban di Era Kini

Kini, makna qurban tidak hanya terletak pada distribusi daging, melainkan pada prosesi penyembelihan yang penuh ketundukan. Rasulullah mengajarkan bahwa satu hewan qurban bisa diniatkan untuk dirinya dan keluarganya, sebagai bentuk ketakwaan yang sampai kepada Allah, bukan sekadar daging atau darahnya (QS. Al-Hajj: 36-37).

Di tengah hedonisme zaman ini, ibadah qurban mengingatkan umat akan nilai cinta, kepatuhan, dan ketundukan kepada Allah. Inilah hikmah terbesar dari perjalanan sejarah qurban—dari Nabi Adam hingga generasi kita sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *