Infomojokerto.id – Di tengah gempuran modernisasi yang serba cepat dan individualis, sebuah pemandangan kontras yang menyejukkan hati masih dapat kita temui di sudut Kota Mojokerto.
Tepatnya di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Mojosari, sebuah tradisi kuno tetap berdiri kokoh, menjaga ritme kehidupan para santri agar tetap selaras dengan tuntunan agama dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dikutip dari penelitiain Huda, Karima Nurul. Tradisi Makan Talaman Di Pondok Pesantren Al-Hidayah Mojosari Mojokerto (Studi Living Hadis). Diss. UIN Syekh Wasil Kediri, 2026, menjelaskan bahwa tradisi itu disebut dengan “Makan Talaman” atau makan bersama-sama.
Bagi masyarakat awam, ini mungkin sekadar aktivitas mengisi perut, namun bagi kaum sarungan di Al-Hidayah, talaman adalah perwujudan nyata dari interaksi sosial yang diajarkan oleh sang Kiai melalui cerminan kehidupan Rasulullah SAW.
Secara harfiah, makan talaman berarti makan bersama-sama dalam satu nampan atau wadah besar yang disebut talam. Tidak ada piring individu, tidak ada sekat kelas sosial; semua duduk melingkar dalam posisi yang sama rendah, menghadapi hidangan yang sama, dan memulai suapan dengan basmalah yang sama.
Keberadaan tradisi ini di Pondok Pesantren Al-Hidayah menjadi bukti otentik bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat kebudayaan. Di sini, teks-teks suci atau hadis tidak hanya dihafal di dalam kepala, tetapi “dihidupkan” dalam tindakan nyata melalui kajian Living Hadis.
Menariknya, meskipun zaman telah berubah, Pesantren Al-Hidayah tetap konsisten mempertahankan identitas tradisionalitasnya. Di saat dunia luar mulai terbiasa makan sendiri sambil menatap layar gawai, para santri di sini justru diajarkan untuk saling menatap wajah dan berbagi lauk-pauk dalam satu nampan.
Kajian yang dilakukan oleh Karima Nurul Huda (2026) dari UIN Syekh Wasil Kediri mencoba membedah fenomena ini lebih dalam. Menggunakan kacamata sosiologi Max Weber, tradisi makan talaman ini ternyata bukan sekadar kebiasaan turun-temurun tanpa makna, melainkan sebuah tindakan sosial yang kompleks.
Dalam perspektif Weber, ada empat corak tindakan yang menyelimuti tradisi talaman ini. Pertama adalah rasionalitas instrumental. Para santri dan pengelola pesantren sadar bahwa dengan makan talaman, efisiensi waktu dan kebersamaan dapat tercapai secara praktis dalam manajemen logistik pondok.
Kedua, terdapat nilai rasionalitas nilai. Makan bersama dipandang sebagai bentuk ketaatan terhadap sunnah Nabi Muhammad SAW. Ada keyakinan mendalam bahwa keberkahan tidak turun pada piring-piring yang terpisah, melainkan pada kebersamaan yang terjalin erat di atas nampan.
Selanjutnya adalah tindakan afektif. Talaman menciptakan ikatan emosional yang kuat antar santri. Rasa senasib sepenanggungan tumbuh saat mereka berbagi nasi yang mungkin terkadang keras atau lauk yang sederhana. Di sana, tawa dan cerita mengalir, mempererat hubungan batin yang sulit digantikan oleh metode makan lainnya.
Corak keempat adalah tindakan tradisional. Makan talaman dilakukan karena ia adalah warisan luhur yang telah melekat pada identitas pesantren sejak dahulu kala. Mempertahankan talaman berarti menjaga marwah pesantren sebagai benteng terakhir tradisi Islam Nusantara di Mojokerto.
Pesantren Al-Hidayah sendiri menunjukkan bahwa mereka sangat terbuka terhadap akulturasi budaya. Meskipun naskah agama menjadi rujukan utama, adat lokal dan tradisi seperti talaman ini diterima dengan tangan terbuka, menciptakan corak keberagamaan yang unik dan membumi.
Seorang santri di sana mungkin tidak hanya belajar cara membaca kitab kuning dengan benar, tetapi mereka juga belajar cara membagi suapan agar kawan di sebelahnya tidak kekurangan. Ini adalah sekolah karakter yang paling nyata: belajar egoisme yang runtuh di depan nampan kayu atau seng.
Bagi sang Kiai, mengajarkan makan talaman adalah cara menanamkan kerendahan hati. Tidak ada santri yang merasa lebih tinggi derajatnya karena semua makan dari wadah yang sama. Inilah inti dari pusat pengajaran agama yang mempunyai dasar sosial nyata bagi masyarakat sekitarnya.
Penelitian Karima Nurul Huda ini akhirnya mengingatkan kita bahwa tradisi Living Hadis seperti makan talaman di Mojosari adalah oase di tengah gersangnya interaksi sosial manusia modern. Ia adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap individualisme yang semakin akut di era digital.
Makan talaman bukan hanya soal mengenyangkan raga, tapi soal memberi nutrisi bagi jiwa sosial. Di Pondok Pesantren Al-Hidayah, harmoni antara tuntunan agama dan kearifan lokal itu tetap terjaga, seirama dalam satu nampan yang penuh dengan keberkahan dan persaudaraan.








