Infomojokerto.id – Panggung Piala AFF 2026 kembali memberi pelajaran berharga bahwa tingginya nilai pasar (market value) suatu tim tidak pernah menjadi jaminan kualitas maupun kemenangan di atas lapangan hijau. Hal ini terbukti saat Timnas Indonesia secara mengejutkan dilibas Vietnam dengan skor telak 0-3 pada laga ketiga Grup A di Stadion Pakansari, Bogor, Senin (3/8/2026) malam WIB.
Kekalahan menyakitkan di hadapan publik sendiri ini terasa sangat kontras jika membandingkan angka-angka finansial kedua tim. Berdasarkan catatan, total market value skuad Indonesia di ajang Piala AFF 2026 mencapai angka fantastis Rp163 miliar, jauh melampaui skuad Vietnam yang hanya bernilai sekitar Rp115 miliar.
Secara komposisi pun, skuad Garuda jauh lebih mentereng dengan menurunkan hampir 11 pemain berstatus naturalisasi di atas lapangan. Di sisi lain, Vietnam tampil lebih bersahaja dengan hanya mengandalkan dua hingga tiga pemain naturalisasi dalam starting line-up mereka.
Namun, superioritas finansial dan deretan nama mahal di atas kertas tersebut sama sekali tidak terefleksikan dalam alur permainan. Selama 90 menit penuh, Timnas Indonesia justru gagal menerjemahkan harga mahal skuad menjadi performa apik dan dominan.
Alih-alih menyajikan permainan berkelas sesuai label harganya, anak asuh John Herdman justru tampil kebingungan dan kerap kehilangan arah. Umpan-umpan yang tidak akurat, rapuhnya barisan gelandang, serta lambatnya transisi membuat alur serangan Indonesia mudah dipatahkan.
Sebaliknya, Vietnam membuktikan bahwa kedisiplinan taktik dan efektivitas jauh lebih unggul dibandingkan sekadar label nilai pasar mahal. Bermain lebih tenang, tim tamu berhasil mengeksploitasi setiap celah dan mengeksekusi serangan balik menjadi tiga gol tanpa balasan.
Kekalahan ini seolah menegaskan bahwa kehadiran deretan pemain bernilai tinggi tidak otomatis membentuk identitas dan permainan tim yang solid. Kualitas sebuah tim nasional tetap ditentukan oleh kolektivitas, taktik yang matang, serta eksekusi peluang di lapangan.
Sorotan tajam kini tertuju pada racikan strategi pelatih John Herdman. Kendati dibekali materi pemain dengan nilai pasar melimpah, pelatih asal Inggris tersebut dinilai belum mampu memberikan pola permainan yang jelas maupun solusi saat tim berada dalam situasi tertekan.
Hasil minus ini langsung menempatkan langkah Indonesia di posisi yang sangat riskan pada klasemen Grup A. Dengan menyisakan satu laga tersisa, Garuda dituntut menang mutlak atas Singapura jika tidak ingin angkat koper lebih awal dari turnamen ini.
Kekalahan 0-3 dari Vietnam ini menjadi alarm keras bagi persepakbolaan nasional bahwa angka kemewahan market value tidak boleh membuat tim jemawa. Tanpa kedisiplinan dan sistem permainan yang matang, skuad berharga ratusan miliar rupiah pun tetap bisa dibuat tak berdaya.








