Gusur Manajemen “Kira-kira”: Mita Dwi Soroti Pentingnya Melek Akuntansi bagi Kedai Seblak di Jombang

Infomojokerto.id – Aroma bumbu dapur pedas dan cabai yang menyengat langsung menyambut siapa saja yang melintasi gang-gang sempit di sudut Kabupaten Jombang. Di sana, seblak bukan sekadar camilan, melainkan napas ekonomi bagi banyak ibu rumah tangga yang mencoba peruntungan dengan membuka kedai kecil-kecilan di teras rumah.

Kuliner asal Jawa Barat ini memang telah bermigrasi menjadi primadona di “Kota Santri”. Modal yang relatif terjangkau dan peminat yang tak pernah sepi membuat bisnis seblak perorangan menjamur, mulai dari yang menggunakan gerobak sederhana hingga kedai rumahan yang sudah berjalan tahunan.

Namun, di balik riuhnya antrean pembeli dan denting wajan, tersimpan sebuah tantangan klasik yang sering kali terabaikan oleh para pelaku UMKM ini. Masalah tersebut bukanlah soal rasa, melainkan manajemen keuangan yang masih sangat tradisional dan cenderung “berjalan apa adanya”.

Banyak pemilik kedai seblak merasa bahwa laporan keuangan hanyalah urusan perusahaan besar dengan gedung pencakar langit. Padahal, usaha sekecil apa pun membutuhkan fondasi pengelolaan yang kuat agar tidak sekadar “tutup lubang gali lubang” setiap harinya.

Kesenjangan inilah yang menjadi sorotan Mita Dwi, mahasiswi Program Studi S1 Akuntansi STIE Al-Anwar Mojokerto. Menurutnya, pemahaman mengenai perekayasaan laporan keuangan sangat mendesak untuk mulai diperkenalkan kepada para pelaku usaha mikro di tingkat lokal.

Mita berargumen bahwa konsep akuntansi yang sering dianggap rumit sebenarnya memiliki sisi yang sangat praktis. Mengacu pada pemikiran Suwardjono, akuntansi adalah seni menyediakan informasi keuangan yang kuantitatif agar pemilik usaha bisa mengambil keputusan yang tepat.

“Banyak pelaku UMKM seblak di Jombang yang sudah berjualan lebih dari dua tahun, tapi masih mencampur uang belanja dapur dengan uang modal usaha. Ini adalah titik lemah yang membuat usaha sulit berkembang,” ungkap Mita Dwi memberikan analisisnya.

Lebih lanjut, Mita menjelaskan bahwa inti dari perekayasaan laporan keuangan bukan sekadar mencatat angka di atas kertas. Ini adalah tentang bagaimana merancang sebuah sistem sederhana agar si pemilik tahu pasti berapa keuntungan bersih yang ia kantongi setelah dipotong biaya kerupuk, sosis, hingga gas elpiji.

Tanpa catatan yang jelas, pengambilan keputusan seperti menambah menu baru atau mencicil peralatan masak hanya didasarkan pada perasaan atau feeling semata. “Padahal, bisnis yang sehat harus bicara berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan,” tambah mahasiswi akuntansi tersebut.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pengidentifikasian hingga penyajian data keuangan belum menyentuh level kedai rumahan. Sering kali, pemilik kedai merasa sudah untung karena memegang uang tunai di tangan, tanpa menyadari ada biaya penyusutan alat atau modal yang ikut terpakai.

Mita Dwi menekankan bahwa penerapan akuntansi ini tidak harus selalu menggunakan aplikasi canggih. Cukup dengan kedisiplinan mencatat pemasukan harian dan pengeluaran operasional secara rutin, seorang pedagang seblak sudah melakukan praktik perekayasaan laporan keuangan skala kecil.

Menariknya, semangat akuntansi ini sebenarnya sangat relevan dengan nilai-nilai luhur masyarakat Jombang. Tradisi kejujuran dan sifat amanah yang mengakar kuat dari budaya pesantren sejalan dengan prinsip dasar akuntansi, yaitu menyajikan informasi apa adanya tanpa manipulasi.

Dengan menerapkan pencatatan yang tertib, pelaku UMKM di Jombang tidak hanya sekadar bertahan hidup dari hari ke hari. Mereka sedang membangun rekam jejak keuangan yang nantinya bisa berguna jika ingin mengakses bantuan modal atau kemitraan yang lebih luas.

Oleh karena itu, edukasi mengenai literasi keuangan bagi pedagang rumahan menjadi kunci penting. Langkah kecil seperti memisahkan dompet pribadi dan dompet dagangan adalah awal dari transformasi besar bagi masa depan usaha mereka.

Pada akhirnya, seblak yang pedas dan nikmat akan jauh lebih “berasa” jika dibarengi dengan pengelolaan keuangan yang sehat. Dengan melek akuntansi, para pejuang ekonomi rumahan di Jombang bisa memastikan bahwa keringat yang mereka teteskan di depan kompor benar-benar berbuah kesejahteraan bagi keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *