Infomojokerto.id – Secara global, isu kesehatan mental remaja telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan antara 10% hingga 20% remaja di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan menjadi salah satu yang paling umum.
Tingginya angka ini diperkuat oleh data dari The Annie E. Casey Foundation, yang mencatat hampir 1 dari 5 remaja usia 12–17 tahun (18%) pernah mengalami episode depresi mayor dalam satu tahun terakhir.
Kondisi yang serupa, bahkan lebih parah, terjadi di Indonesia. Hasil dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 remaja (34,9%), atau setara dengan 15,5 juta jiwa, mengalami masalah kesehatan mental dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Angka ini menandakan bahwa masalah ini bukan lagi isu minor, melainkan krisis kesehatan publik yang memerlukan perhatian serius dan segera.
Gangguan kecemasan tercatat sebagai jenis gangguan yang paling sering dialami oleh remaja Indonesia, mencapai 26,7%. Posisi selanjutnya ditempati oleh gangguan perhatian/hiperaktivitas sebesar 10,6%, dan depresi sebesar 5,3%.
Prevalensi tinggi ini menunjukkan tekanan psikologis dan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini telah memengaruhi fungsi keseharian mereka secara signifikan.
Secara regional, permasalahan ini sangat menonjol di Provinsi Jawa Barat, yang merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi gangguan mental tertinggi di Indonesia.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2024 melaporkan prevalensi gangguan mental di provinsi ini mencapai 3,3%, yang jika dikonversi ke populasi, jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melebihi 62 ribu orang.









