Infomojokerto.id – Di sudut Desa Sumber Gayam, sebuah usaha pakaian rumahan milik Pak Suliyanto terus menunjukkan eksistensinya. Berdiri sejak tahun 2016, unit ekonomi skala kecil ini menjadi bukti nyata bagaimana jeli melihat peluang pasar di lingkungan sekitar bisa menjadi fondasi bisnis yang kuat selama hampir satu dekade.
Kala itu, Pak Suliyanto memulai langkahnya dengan modal awal sebesar Rp 10.000.000. Keputusan ini diambil karena minimnya kompetitor di wilayahnya, sebuah langkah strategis dalam ekonomi mikro untuk mengisi kekosongan pasokan sandang bagi masyarakat setempat.
Berbagai produk ditawarkan, mulai dari kemeja hingga celana jeans. Namun, dalam hukum permintaan sederhana, kaos dan celana pendek menjadi primadona karena harganya yang terjangkau, yang secara langsung berinteraksi dengan daya beli masyarakat sekitar yang bersifat dinamis.
Fleksibilitas stok menjadi kunci operasional usaha ini. Menjelang hari besar seperti bulan Ramadan, frekuensi pengambilan barang ke distributor meningkat drastis hingga empat hari sekali, menunjukkan responsivitas usaha terhadap fluktuasi permintaan musiman yang sering terjadi dalam industri retail.
Namun, di balik ketangguhannya bertahan, usaha Pak Suliyanto menghadapi tantangan klasik dalam manajemen keuangan UMKM. Hingga saat ini, sistem pencatatan keuangan yang terstruktur belum diterapkan, di mana transaksi masuk dan keluar masih mengandalkan ingatan tanpa dokumentasi tertulis.
Secara teoritis, kondisi ini bersinggungan dengan prinsip Economic Entity Assumption. Dalam literatur Intermediate Accounting karya Kieso, Weygandt, dan Warfield (2020), ditegaskan bahwa aktivitas keuangan bisnis idealnya dipisahkan sepenuhnya dari urusan pribadi demi objektivitas laporan.
Faktanya, Pak Suliyanto masih menyatukan kantong pribadi dengan kas usaha. Tanpa adanya pemisahan ini, batasan antara modal yang harus diputar kembali dan keuntungan yang bisa dikonsumsi menjadi kabur, yang seringkali menjadi hambatan bagi pertumbuhan aset secara berkelanjutan.
Meski demikian, Pak Suliyanto tidak menutup mata sepenuhnya terhadap performa bisnisnya. Ia secara rutin melakukan penghitungan selisih stok dan estimasi margin harga untuk mendeteksi kerugian, sebuah metode intuitif untuk menjaga kelangsungan operasional di tengah keterbatasan sistem.
Langkah intuitif tersebut bukannya tanpa risiko. Merujuk pada pemikiran Hery (2015) dalam buku Pengantar Akuntansi, akurasi laba hanya bisa dicapai jika seluruh beban operasional dan pendapatan dicatat sistematis. Tanpa itu, ada risiko “biaya siluman” yang tidak terhitung sehingga laba bersih nampak tidak semestinya.
Ketidakteraturan ini juga membuat usaha Pak Suliyanto belum selaras dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Berdasarkan pedoman IAI (2016), penyusunan laporan posisi keuangan dan laba rugi sederhana sangat krusial sebagai alat evaluasi kinerja periodik.
Ujian terberat bagi usaha ini muncul pasca pandemi Covid-19. Guncangan ekonomi global berdampak langsung pada penurunan daya beli di Sumber Gayam, memaksa volume penjualan terkadang menyusut hingga hanya 10 potong pakaian saja dalam satu bulan.
Ketidakpastian jumlah penjualan per bulan ini menuntut strategi harga yang sangat kompetitif. Pak Suliyanto harus terus memantau harga pasar agar produknya tetap relevan dengan isi dompet konsumen, sembari menanggung beban biaya pengiriman dari distributor.
Berdasarkan analisis data lapangan yang dihimpun oleh Khurnia Setya Rahmawati mahasiswa Prodi S1 Akuntansi STIE Al-Anwar Mojokerto (2026), potensi pengembangan usaha ini sebenarnya sangat terbuka lebar. Fondasi pasar yang sudah terbentuk sejak 2016 adalah modal sosial yang tidak ternilai bagi Pak Suliyanto untuk melangkah lebih jauh.
Kunci masa depan usaha ini terletak pada transformasi manajemen keuangan. Dengan mulai memisahkan keuangan pribadi dan menerapkan pencatatan sederhana sesuai SAK EMKM, Pak Suliyanto dapat mengontrol arus kas dengan lebih akurat, memastikan usahanya tidak sekadar bertahan, tapi juga berkembang lebih stabil.









