Infomojokerto.id – Karnaval desa kembali menjadi magnet bagi warga Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, dalam rangka memperingati HUT RI ke-80. Acara yang digelar meriah ini menghadirkan ragam penampilan mulai dari konsep modern, tradisional, agamis, hingga nasionalis.
Setiap kelompok peserta tampil dengan kreativitas yang mencerminkan identitas mereka, namun tetap dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.
Suasana di sepanjang jalan desa dipenuhi sorak-sorai penonton yang antusias menyaksikan arak-arakan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua turut larut dalam kemeriahan.
Beragam busana adat dari berbagai daerah, kostum bertema teknologi modern, hingga simbol-simbol religius dan nasionalisme, menghiasi jalannya karnaval. Perpaduan ini mencerminkan bagaimana keberagaman dapat hadir serasi dalam satu panggung perayaan.
Menurut Dr. Latif Syaipudin, M.Pd, dosen STIE Al-Anwar Mojokerto sekaligus pendiri Birendra Research and Survey, karnaval desa memiliki nilai sosial yang lebih dalam daripada sekadar parade hiburan.
“Dalam kacamata akademis, karnaval adalah bentuk pesta rakyat yang menjadi wadah interaksi sosial, pertukaran budaya, dan pembentukan kohesi sosial. Tidak semua desa bisa melaksanakannya setiap tahun, kadang butuh waktu setahun bahkan dua tahun untuk mempersiapkan karnaval yang benar-benar matang,” jelasnya.
Dr. Latif menambahkan, keberagaman konsep yang diusung mulai dari tradisional, modern, agamis, hingga nasionalis mencerminkan pluralitas yang ada di masyarakat.
“Justru di sinilah letak keistimewaannya. Karnaval menjadi miniatur kehidupan berbangsa, di mana perbedaan disatukan dalam suasana gembira, tanpa sekat, tanpa konflik,” ujarnya.
Tak hanya warga setempat, karnaval Kedungmaling juga menarik perhatian pengunjung dari desa tetangga. Mereka datang untuk melihat penampilan unik para peserta, sekaligus merasakan suasana kebersamaan yang jarang ditemui di acara lain. Bahkan, beberapa peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan produk lokal, mempromosikan komunitas, hingga menyampaikan pesan-pesan sosial kepada masyarakat.
Para akademisi melihat fenomena ini sebagai bukti bahwa kegiatan berbasis budaya dan partisipasi publik memiliki daya ikat yang kuat terhadap harmoni sosial. Karnaval bukan hanya menghidupkan semangat kemerdekaan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal melalui penjualan makanan, minuman, dan cinderamata di sepanjang jalur acara.
Dengan keberhasilan pelaksanaan tahun ini, warga Kedungmaling berharap karnaval dapat terus menjadi tradisi yang dijaga dan dikembangkan. Bagi mereka, perayaan ini bukan hanya tentang menghormati jasa pahlawan, tetapi juga merayakan kehidupan dalam kebersamaan, mengukuhkan rasa persaudaraan, dan membangun optimisme untuk masa depan desa yang lebih baik.









