Infomojokerto.id – Tidak semua bencana menjadi akhir dari perjuangan. Bagi sebagian orang, kehancuran justru menjadi titik balik menuju ketangguhan baru. Hal itulah yang dialami Ibu Lasiyani, seorang peternak kecil asal Dusun Gondang, Desa Parengan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
Setelah kehilangan seluruh ternaknya akibat wabah penyakit pada tahun 2023, kini ia bangkit dan membangun kembali usahanya dari nol dengan strategi yang lebih tangguh.
Pada tahun 2022, usaha peternakan ayam dan mentok milik Ibu Lasiyani berkembang pesat. Namun, virus mematikan yang menyerang unggas membuat semua ternaknya mati, menyebabkan kerugian besar.
“Saat itu, saya benar-benar terpukul. Semua habis. Saya bahkan sempat berhenti beternak dan beralih menjadi petani agar bisa tetap hidup,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.
Namun, awal tahun 2025 menjadi babak baru. Dengan tekad kuat, Ibu Lasiyani kembali memulai usaha peternakannya, kali ini dengan konsep dan strategi berbeda. Ia tidak hanya ingin bertahan, tetapi menjadi lebih tangguh dari sebelumnya.
Mahasiswa Akuntansi STIE Al-Anwar Mojokerto, Ela Trilasma Desvi, yang meneliti kisah ini, menyebut bahwa langkah Ibu Lasiyani mencerminkan konsep “Antifragile” yang diperkenalkan oleh pakar risiko Nassim Nicholas Taleb.
“Konsep antifragile ini berbeda dari sekadar tangguh. Jika yang tangguh hanya mampu bertahan dari guncangan, maka yang antifragile justru menjadi lebih kuat karena guncangan itu,” jelas Ela.
Menurut Ela, ada empat pelajaran utama yang bisa dipetik dari strategi baru Ibu Lasiyani. Pertama, fokus pada satu jenis usaha. Setelah sebelumnya memelihara dua jenis unggas sekaligus, kini ia hanya fokus pada ayam kampung.
“Fokus membuatnya bisa lebih mudah mengelola risiko dan menjaga kualitas,” tambahnya.
Kedua, Ibu Lasiyani menerapkan sistem peternakan semi-umbaran dan mandiri dalam hal pakan. Ia menggunakan campuran dedak, jagung giling, dan pepaya muda untuk pakannya, serta larutan gula merah untuk menjaga stamina ayam. “Dulu saya tergantung pada pakan dan obat pabrikan. Sekarang saya buat sendiri, lebih hemat dan lebih sehat,” kata Ibu Lasiyani.
Ketiga, dari sisi keuangan, ia tidak lagi bergantung pada utang. Modal awal yang digunakan berasal dari hasil pertanian dan tabungan pribadi. Langkah ini membuat kondisi neraca keuangannya lebih stabil karena seluruh aset didanai dari ekuitas sendiri tanpa beban bunga pinjaman.
“Ini keputusan finansial yang cerdas untuk UMKM kecil. Ia membangun dari modal bersih, tanpa kewajiban utang,” terang Ela.
Keempat, strategi pemasaran yang realistis dan berbasis komunitas menjadi kekuatan utama. Ia memasarkan produknya langsung kepada tetangga dan pelanggan tetap di sekitar desa. Permintaan biasanya meningkat pada perayaan besar seperti Maulid Nabi dan Tahun Baru.
“Ini contoh nyata bagaimana UMKM bisa bertahan bahkan tumbuh setelah krisis. Ia tidak hanya belajar dari kegagalan, tapi menggunakannya sebagai dasar membangun sistem bisnis yang lebih tangguh,” tutur Ela Trilasma Desvi.
Kisah Ibu Lasiyani membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan bisnis, melainkan awal dari perubahan besar. Dengan ketekunan, keberanian untuk belajar, dan pengelolaan keuangan yang hati-hati, ia menunjukkan makna sejati dari menjadi antifragile bangkit lebih kuat dari setiap guncangan.









