Infomojokerto.id – Di tengah gempuran bisnis kuliner modern dan kenaikan harga bahan baku, warung-warung kecil tetap menjadi denyut nadi perekonomian rakyat. Salah satunya adalah Warung Wujude Roso yang berdiri sejak 2018 di Dusun Putuk, Desa Banaran, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri.
Meskipun sederhana, warung yang dikelola oleh Bapak Subandio ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana usaha kecil mampu bertahan berkat kedisiplinan dalam mengelola keuangan dan menjaga kualitas rasa.
Warung Wujude Roso dikenal masyarakat sekitar karena menu andalannya yang menggugah selera seperti nasi goreng, mie goreng, capcay, fuyunghai, dan koloke.
Semua dimasak langsung oleh pemiliknya dengan cita rasa rumahan yang khas. Namun, bukan hanya kelezatan makanan yang menjadi daya tarik, melainkan juga cara pengelolaan keuangan yang dilakukan secara sederhana tetapi konsisten.
Setiap hari, Bapak Subandio selalu mencatat seluruh transaksi keuangan mulai dari hasil penjualan hingga pengeluaran untuk belanja bahan. Catatan itu mungkin tampak sepele, hanya berupa buku tulis biasa, tetapi justru menjadi kunci kestabilan usaha.
Menurut Sekar Dwi Retno, mahasiswa Program Studi Akuntansi STIE Al-Anwar Mojokerto yang melakukan pengamatan terhadap usaha tersebut, kebiasaan Bapak Subandio merupakan bentuk nyata penerapan prinsip akuntansi berbasis kas yang sederhana namun efektif.
“Pencatatan manual seperti yang dilakukan di Warung Wujude Roso sudah termasuk praktik akuntansi dasar. Meskipun tidak menggunakan sistem komputerisasi, pencatatan berbasis kas ini membantu pemilik memahami kondisi keuangan usaha secara nyata dan cepat,” ujar Sekar saat diwawancarai.
Sekar menambahkan, kebiasaan ini sejalan dengan teori akuntansi yang dijelaskan oleh Warren, Reeve, dan Fess (2017) bahwa pencatatan arus kas merupakan metode efektif untuk memantau kemampuan usaha menghasilkan dan mengelola uang tunai dari kegiatan operasionalnya.
“Bapak Subandio mungkin belum membuat laporan laba rugi atau neraca, tetapi langkah sederhana beliau sudah menggambarkan kesadaran pentingnya pencatatan keuangan. Ini patut dicontoh oleh pelaku UMKM lainnya,” tambah Sekar.
Selain disiplin dalam keuangan, Warung Wujude Roso juga menjaga konsistensi rasa sebagai keunggulan utamanya. Setiap hidangan dibuat dari bahan segar yang dibeli langsung di pasar setiap pagi. Suasana warung yang bersih dan pelayanan cepat menambah kenyamanan pelanggan.
Bagi Bapak Subandio, usaha kuliner bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang makna dari nama “Wujude Roso” yang berarti terwujudnya rasa. “Saya ingin setiap orang yang makan di sini bisa merasakan ketulusan dan cita rasa yang saya buat sendiri,” ujarnya dengan senyum hangat.
Ketekunan dan kesederhanaan pengelolaan yang dilakukan Warung Wujude Roso menjadi contoh nyata bahwa prinsip akuntansi tidak hanya berlaku di perusahaan besar, tetapi juga bisa diterapkan di warung kecil. Dengan pencatatan yang konsisten dan semangat melayani, usaha sederhana pun mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi yang tidak menentu.









